Musik sangat kaya akan nilai. Salah satu cara pandang yang mudah dan umum adalah melihatnya dari dua nilai besar yaitu: nilai intrinsik dan ekstrinsik. Nilai intrinsik musik adalah nilai yang secara mandiri sudah ada pada musik itu sendiri: bunyi-bunyian yang ada di dalamnya, tata dan strukturnya, dan sejenisnya; sedangkan nilai ekstrinsik adalah hal-hal ‘di luar’ musik yang kita ‘assign’ kepada musik, misalnya: pemilihan lirik untuk tujuan tertentu dari sebuah lagu, pengaruh kebiasaan/ tradisi/ budaya dalam memaknai sebuah karya musik, dan sejenisnya. Pemahaman atas kedua nilai ini sangat bisa menimbulkan perdebatan, bahkan [dapat] memunculkan dua kubu pemahaman tentang musik: intrinsik vs ekstrinsik. Beberapa pendidik musik melihatnya sebagai wacana tentang: teks [intrinsik] dan konteks [ekstrinsik].
Tulisan ini tidak akan membicarakan hal ‘rumit’ di atas. Saya hanya mau berbagi cerita tentang suatu hal sederhana yang ada kaitannya dengan “teks dan konteks” yang terjadi pada anak kami saat menyanyikan sebuah lagu anak-anak yang berjudul “Bangun Pagi”.
Pramusetya Kanca [nama panggilan Pram, anak kami, sekarang berusia 5 tahun 1 bulan, sekolah TK A di Charitas - Pondok Labu] senang bernyanyi. Ia dapat menyanyikan ulang kalimat/ frase melodi sederhana yang dia dengar sesuai dengan pitch dan teksturnya. Dia juga ‘taat’ dengan ritme musik/ lagu. Pram juga suka berhitung, seperti banyak anak lainnya, hitungan yang ia lakukan per sepuluhan: dari satu hingga sepuluh, kemudian sampai dua puluh, dan hari Sabtu lalu sambil membaca tabel angka Pram bisa menghitung sampai tiga puluh sembilan
Pada hari-hari awal sekolahnya, Pram banyak belajar lagu yang baru baginya, salah satunya adalah lagu “Bangun Pagi”. Saya menduga banyak dari Anda mengenal lagu “Bangun Pagi” ini. Lirik, notasi, dan audionya adalah sebagai berikut:
Suatu hari sepulang sekolah, dalam perjalanan Pram bernyanyi lagu tersebut namun hanya bait pertama saja dan itu pun tidak sesuai dengan yang diajarkan. Ia menyanyikannya demikian:
Ibunya berusaha meralat lagu yang dinyanyikan, namun Pram tidak setuju dan merasa hitungan harus sampai angka sepuluh
Pengalaman sederhana ini erat sekali dengan bahasan “teks dan konteks” lagu. Secara “teks” kalimat/ frase untuk bait pertama lagu ini sudah terpenggal, terjeda. Namun ternyata bagi Pram secara “konteks” belum lah usai, karena menurutnya jika ingin memenggal hitungan adalah per sepuluhan. Untuk mengatasi masalah tersebut dia membuat melodi sendiri untuk mengusaikan [cadens] hitungan dengan lirik “sembilan sepuluh”. Bentuknya pun unik, seperti sebuah coda dari sebuah lagu. Seringkali ia menyanyikan bagian “sembilan sepuluh” dengan perlambatan sehingga lebih terasa sebagai sebuah akhir kalimat.
Bagi saya pengalaman ini cukup menarik, saya jadi melihat-lihat lagi pengalaman saya ketika membuat lagu atau lagu-lagu lain yang sudah tercipta, bagaimana si pembuat lagu/ musik membuat bagian-bagiannya, menatanya, memulainya, dan mengakhirinya; jika sebuah lagu diberi lirik, pertimbangan apa sajakah yang perlu diambil, bagaimana penyelesaiannya jika pada suatu alur ada yang dirasa kurang sesuai, etc.
Saya yakin banyak hal-hal menarik/ unik/ lucu yang terjadi pada anak-anak Anda dalam perkembangan [musikal] nya. Dan bisa jadi kelucuan-kelucuan itu adalah contoh dari ‘masalah’ musikal yang seringkali dihadapi pemusik dalam karya-karyanya.
Mari semakin kayakan musik kita dengan ‘teks’ dan ‘konteks’. Selamat bermusik dengan anak-anak Anda
- p. b. adi -
* = saya tidak tahu siapa pencipta lagu ini dan apakah benar ini judulnya. Untuk kepentingan pemahaman informasi, saya sertakan notasi yang saya buat sendiri dari ingatan saya atas lagu ini dan juga file audionya.






