Berikut ini adalah bagian kedua dari kultwit #bunyi tanggal 23-25 Juni 2010. Semoga bermanfaat ya teman-teman
Silakan…
===========
Propagasi membuat getaran/gelombang menjadi berlipatganda dan tidak lagi merupakan getaran/gelombang tunggal. Sebuah benda bergetar (sumber getar) getaran tersebut dijalarkan oleh media melalui proses propagasi: getaran satu partikel media menggetarkan media yang lain. Sebagai contoh: media propagasi udara. udara terdiri atas banyak partikel. ketika satu partikel menjalar maka ia akan menggetarkan partikel-partikel lainnya. Bunyi yang kita dengar dalam kondisi normal/ umumnya (dengan media propagasi udara) tidaklah dihasilkan oleh gelombang tunggal.
Bunyi yang hanya terdiri atas satu getaran tunggal dinamakan pure tone. Dalam kenyataan sehari-hari, kita hampir tidak pernah mendengar pure tone karena bunyi yang kita dengar gelombangnya sudah terlipatganda dalam propagasinya. Bunyi yang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari adalah bunyi yang tersusun atas banyak gelombang, dinamakan complex tone.
Complex tone yang terdiri atas gelombang-gelombang yang berkelipatan akan menghasilkan definite pitch. Dalam bahasa kita, definite pitch adalah nada: bunyi yang relatif dapat diketahui tinggi/ rendahnya.
Sedangkan bunyi yang dihasilkan oleh gelombang-gelombang yang tidak berkelipatan adalah indefinite pitch. Bunyi ini (relatif) tidak bisa kita inderai dengn jelas nadanya. Contoh berikut semoga bisa menjelaskan beda keduanya: bunyi satu tuts piano yang dimainkan (definite) dan bunyi pintu diketuk (indefinite).
Kelipatan-kelipatan dari getaran dasar yang dihasilkan sumber bunyi dinamakan harmonics. Sebuah definite pitch tersusun atas gelombang dasar dengan frekuensi basal dan harmonicsnya. Contoh: nada A 440Hz tersusun dari gelombang 440Hz (frekuensi basal) 880Hz. (harmonics pertama) 1760Hz (harmonics kedua) dst. Pada hampir semua nada, besar energi dari frekuensi-frekuensi kelipatannya lebih rendah dibanding frekuensi sebelumnya. Dengan contoh yang sama dengan sebelumnya: pada nada A, decibel freq 440Hz > decibel freq 880Hz > decibel freq 1760Hz > dst.
Pada beberapa instrumen terjadi pengecualian. Eg. umumnya bunyi didgeridoo: decibel frekuensi basalnya lebih rendah daripada kelipatan pertamanya dan decibel frekuensi kelipatan keduanya (kembali) lebih rendah daripada decibel frekuensi kelipatan pertamanya. Jadi pada didgeridoo yang kita dengar jelas adalah frekuensi kelipatan pertamanya. Contoh penjelasan: Jika didgeridoo ditandai bernada A 110Hz, sebenarnya frekuensi basalnya adalah 55Hz.
Pada beberapa tweet sebelum ini saya menyampaikan tentang definite pitch sebagai bunyi yang relatif kita tahu tinggi/rendahnya atau nada. Pada kenyataannya tidak semua definite pitch dapat kita ketahui nadanya, tergantung lamanya bunyi itu berlangsung. Untuk dapat kita inderai sebagai nada, (rata-rata) dibutuhkan waktu lebih dari 50ms untuk terjadinya bunyi tersebut. Jika lebih singkat dari 50ms, kita akan mendengarnya sebagai ‘tik’ atau ‘pop’.
Yang menarik dari sebuah complex tone adalah kita mendengarnya sebagai satu nada padahal sebenarnya ada banyak (gelombang) harmonics di dalamnya. Penyebabnya: dalam ‘menangkap’ complex tone, mekanisme pendengaran kita akan lebih ‘menggarap’ frekuensi basal atau frekuensi yang paling besar decibelnya. Mekanisme ini memungkinkan kita untuk lebih fokus terhadap lingkungan. Bayangkan jika kita mendengar semua harmonics dari bunyi-bunyi di sekeliling kita. Para Darwinian percaya bahwa mekanisme ini ‘dipelajari’ dan berevolusi, menyesuaikan dengan kondisi untuk tetap survive.
===========
Jika ada dua (atau lebih) bunyi terjadi bersamaan maka dalam proses propagasi gelombangnya akan terjadi saling mempengaruhi/ interferensi. Secara objektif interferensi ada dua jenis yaitu melemahkan dan menguatkan.
Interferensi melemahkan terjadi ketika kedua (atau lebih) gelombang yang terjadi saling ‘mengganggu’/ ‘meniadakan gelombang yang lainnya. Interferensi menguatkan terjadi ketika kedua (atau lebih) gelombang padu, menambah energi, dan memperpanjang jalannya gelombang. Interferensi yang melemahkan terjadi karena beda frekuensi kedua (atau lebih) gelombang tersebut tidak mencerminkan hubungan kelipatan/ harmonicsnya.
Sedangkn interferensi yang menguatkan terjadi karena beda frekuensi kedua (atau lebih) gelombang tersebut merupakan hubungan kelipatan/ harmonicsnya. Pada interferensi melemahkan terjadi pelayangan > satu gelombang tersusul oleh gelombang lain dengan energi dan waktu getar yang berkurang relatif drastis. Sedangkan pada interferensi menguatkan terjadi penguatan > gelombang satu dan yang lain saling menambah energi dan waktu getar yang menjadi lebih panjang.
Contoh pelayangan adalah bunyi dari permainan gitar yang tidak tersetem dengan baik (fals). Pada interferensi melemah bunyi terdengar tidak stabil/ goyang. Bunyi dari kedua gelombang itu terdengar sebagai beberapa bunyi yang saling susul bukan satu paduan. Pada interferensi menguat bunyi terdengar stabil/ tidak goyang. Bunyi dari kedua gelombang itu terdengar sebagai satu paduan.
Dalam musik, gejala interferensi gelombang ini memberikan rasa khas bagi pendengar. Ini adalah dasar dari konsep konsonan dan disonan dalam musik. Misal pada instrumen gender Bali. Bilah-bilah ‘senada’ dirancang sedemikian rupa supaya mempunyai selisih frekuensi (tidak sama benar Hz-nya) supaya terjadi efek ‘goyang’. Beberapa efek pada sound proccesors bekerja berdasarkan gejala interferensi ini: chorus, flanger, cloner, etc.
Yang menarik adalah konsep konsonan dan disonan pada bunyi bisa berbeda-beda antar budaya. Sebagai contoh adalah perbedaan ‘standar skala antar nada’ pada musik Barat dan karawitan klasik Sunda (misalnya).
Pendidik musik James Mursell mengatakan bahwa pada beberapa kasus, kita mendengarkan musik lebih menggunakan pikiran dibanding telinga. (hampir) Semua praktik kreasi dan menampilkan musik melibatkan penataan beberapa gelombang bunyi. Pengetahuan dan pemahaman tentang gelombang dan bunyi niscaya akan membantu kita lebih dapat menikmati bunyi dan musik.
===========
Salah satu gejala menarik dalam persepsi bunyi adalah oktaf: yaitu dua nada dipersepsi sbg SAMA NADA, walaupun yang satu dianggap lebih tinggi dibanding yang lain. Dalam teori musik Barat, gejala ini dinamakan oktaf.
Dalam musik Barat diatonis, dari satu nada ke nada kelipatannya (frekuensinya) terdapat beberapa nada di antaranya. Dalam ‘range’ itu ada 12 nada dan nada ke-13 nya adalah SAMA NADA dengan nada ke-1 namun lebih tinggi. Tidak semua nada dari 12 nada tersebut mempunyai probabilita yang sama untuk dibunyikan dalam sebuah karya musik. Dalam penskalaan (pengaturan hubungan antar nada dalam rentang 12 nada) mayor, hanya tujuh nada yang probabilitanya besar utk dibunyikan dari 12 nada yang ada. Kita kenal dengan do re mi fa so la ti. Jarak dua nada do dinamakan Prima, do-re Sekon, do-mi Terts, do-fa Kuart… lalu Kuint, Sext, Septim. Jarak do ke do yang lebih tinggi (sesudah ti) dinamakan Okta (= delapan, seperti pada octopuss). Itulah mengapa bunyi dari gelombang yang lebih besar dua kali dibanding gelombang pertamanya dinamakan satu OKTAF lebih tinggi.
Gejala oktaf memungkinkan bapak-bapak bersuara rendah bisa bernyanyi bersama ibu-ibu dan anak-anak bersuara tinggi pada saat yang bersamaan (dengan lagu yang sama) dan tetap terdengar/ berkesan sama.
Berdasarkan pengalaman saya mengajar musik untuk anak-anak, kemampuan persepsi oktaf bukan sesuatu yang murni ‘nature’. Butuh latihan untuk terbiasa dengannya. Mungkin itu pula sebabnya mengapa Ibu adalah pengajar ‘musik’ utama untuk anak, karena umumnya rentang suara Ibu (yang tinggi) sama dengan rentang suara anak-anak.
Implikasi: dalam mengajarkan lagu kepada anak-anak usahakan untuk menggunakan rentang suara si anak, hindari penggunaan oktaf di atas atau di bawahnya.
===========
Beberapa diskusi dan komen:
IndraAziz : @pbadi menarik bro, pemain sax wajib melatih spektrum harmonics tsb, jika tidak, tone yang dihasilkan akan terdengar “encer” #bunyi (cont) 24 Juni 2010 2:08:12 via UberTwitter in reply to pbadi
pbadi : @IndraAziz Dalam bernyanyi jg begitukah, Bro? Re: spektrum harmonics.
IndraAziz : Prinsipnya sama, tetapi tidak ada latihan khusus bro RT @pbadi: @IndraAziz Dalam bernyanyi jg begitukah, Bro? Re: spektrum harmonics. #bunyi 24 Juni 2010 9:26:19 via UberTwitter
===========
adihrespati : @pbadi Tanya, boleh? Mungkinkah bunyi tertentu secara umum (mungkin bahkan universal) lebih disukai dibanding bunyi lain?
@adihrespati Menarik sekali pertanyaan mas. Jawaban saya adalah mungkin. Namun yang jelas, ada kriteria bunyi yang dapat ditolerir.
@adihrespati maksud ditolerir di sini adalah berada pada ambang penginderaan.
@adihrespati pada properti frekuensi, ambang peenginderaan kita adalah 20Hz-20kHz. Pada batas bawah dan atas bisa jadi kita tidak nyaman mendengarnya.
@adihrespati jika rendah sekali akan terdengar buzzing dan shaking, jika terlalu tinggi memekakkan telinga.
@adihrespati juga terjadi pada properti amplitudo, terlalu kecil tidak akan terdengar, terlalu besar maka tekanan udaranya bisa mrusak membran telinga > sakit.
@adihrespati tapi yang saya sampaikan itu adalah bunyi tunggal > satu pitch, satu waktu, energi dan timbre yang konstan.
@adihrespati saya percaya bahwa asosiasi ekstra bunyi sangat mempengaruhi disukai/ tidaknya bunyi.
@adihrespati dan yang sangat penting adalah kesesuaian dengan konteks.
@adihrespati Misal, penggemar kue putu yang sedang ingin makan kue putu sangat mungkin mendengar nada E 660Hz dr pluit uap tukang putu sebagai hal yang menyenangkan.
@adihrespati Namun jika konteksnya adalah ibunya melarang “sudah! jangan jajan kue putu terus!”, bunyi tersebut mungkin jadi bunyi yang menyedihkan.
*************************************************************************
Komen dari saudara @IndraAziz:
IndraAziz @pbadi bayi diperdengarkan musik saat terbangun, bila ia tertidur musik dimatikan, melatih bayi u/ mendengar, bukan mengacuhkan #bunyi tsb. 23 Juni 2010 22:00:05 via UberTwitter
===========
Komen dari saudara @bobycozy :
bobycozy : Time based effects RT @pbadi Beberapa efek pada sound proccesors bekerja berdasarkan gejala interferensi ini: chorus, flanger, cloner, etc.
===========
Terimakasih banyak, salam damai,
- P. B. Adi -