KGG – belajar gitar bersama; di taman publik

Featured

Dua minggu lalu, Iga Massardi mengontak saya via message di facebook. Dia memberi tahu saya tentang sebuah program yang ingin ia jalankan. Sebuah kegiatan belajar gitar untuk para pemula/ yang belum bisa main gitar sama sekali atau belajar gitar dari nol. Kegiatan ini membebaskan para pesertanya dari biaya resmi belajar atau gratis. Serta merta saya senang sekali dan bersemangat untuk membantunya. Begitu saya menceritakan hal ini kepada istri saya, Bonita juga dengan amat bersemangat mendukung saya untuk mendukungnya.

Hebat dan sederhana… KEREN!“, pikir saya. Ini adalah sebuah bentuk konkrit dari berbagi hal baik dengan cara yang sangat menyenangkan, sebuah kegiatan yang paling saya idamkan. Dan sukacita sekali hati ini karena Iga di tahap perkembangannya sekarang ini lah yang menginisiasi dan menjalankan program ini. Menurut saya, keberanian dan niat baik ini perlu untuk dicontoh dan didukung.

Setelah melalui dua kali pertemuan dengan para fasilitator/ instrukturnya, akhirnya KGG (singkatan dari Kelas Gitar Gratis) ini dilakukan untuk pertama kalinya pada hari Minggu 7 Agustus 2011 yang lalu. Mengejutkan!! Peserta yang mendaftar tampaknya hadir semua. Bayangkan ada 40 orang peminat belajar gitar yang akan belajar bersama di sore hari itu. Bukan jumlah yang sedikit, lebih tepatnya BANYAK!!! :) ke-40 orang ini kami bagi menjadi dua ‘kloter’ sesi belajar. Hal ini kami lakukan untuk menjaga efektivitas dan kenyamanan belajar-mengajar. 20 orang ditangani oleh kami para fasilitator/ instruktur (saya, Iga Massardi, Bondan Rastika, Andra Kurniawan, Ruchul Ma’ani) selama +/- 45menit dilanjutkan ‘kloter’ keduanya.

Materi belajarnya juga bukan hal yang sulit. Twinkle-twinkle Little Star kami pilih sebagai lagu awal yang dipelajari peserta dengan memainkan melodinya di satu senar saja. Saat kegiatan berlangsung, saya merasa senang dan tentram, para peserta mau mengikuti instruksi dan kegiatan dengan baik dan tampak penuh hati. Tidak terlihat ada yang malas, sebaliknya mereka tampak begitu bersemangat. Ya, penuh hati dan semangat mengikuti instruksi dan kegiatan belajar adalah modal belajar yang sangat baik. Semoga hasilnya pun demikian nanti ya :) *jangan lupa pada latihan di rumah ya kalian*

Apresiasi juga saya berikan kepada Taman Surapati yang sudah memberi wadah bagi ‘suasana belajar’ yang begitu hangat, beradab, dan menyenangkan. Kami merasa aman dan nyaman belajar di sana. Bayangkan di sebuah taman di tengah-tengah kota Jakarta ini ada kegiatan yang dilakukan ‘ratusan’ manusia yang sebagian besar adalah bermain musik: sekelompok anak belajar biola, puluhan orang bermain orkes kamar, sekelompok pemuda dan Bapak2 bermain alat musik tiup sambil mengaransemen lagu “Padamu Negeri”, dan banyak anak-anak berlari-larian sambil bermain bola sambil tertawa-tawa (termasuk Pram anak saya)… Masyarakat kita ini beradab lho :) dan saya percaya bahwa musik adalah salah satu agen yang bisa membuat masyarakat menjadi lebih beradab. *mariii!!!*

Begitulah kira-kira gambaran secuil tentang kegiatan KGG di hari Minggu lalu. Minggu depan, kegiatan ini akan berlangsung kembali. Kami para fasilitator/ instruktur akan mempersiapkan lagi materi ajar kelanjutan dan yang baru untuk para peserta. Semoga dapat kami siapkan dengan baik. Bagi para peserta yang ikut minggu lalu, jangan lupa untuk latihan terus di rumah ya. Jangan lupa juga untuk daftar lagi ke mas Iga agar bisa tercatat dan berkelanjutan kegiatannya. Tidak sabar menunggu hari Minggu depan ini berkegiatan musik bersama dalam suasana yang nyaman.

Tulisan kali ini akan saya tutup dengan kutipan dari seorang guru besar Psikologi Musik dari Keele University, UK. Sebuah pernyataan yang saya amat akuri, karena menurut hemat saya, ini sungguh kita butuhkan, kalau kita mau lebih menghargai musik untuk kualitas hidup yang lebih baik:

“… performance potential could be unlocked in millions of people if we could recreate social institutions which focused on musical enjoyment, and personal and communal fulfilment, rather than on the need to be best, or to meet the taxing performance requirements of a professional elite”
(Sloboda, 2005)

Mari teman-teman dan saudara-saudara… :) Salam damai :)

* P. B. Adi *

TIPS: membuat lagu untuk anak – part. 1

Berikut ini beberapa tips dalam membuat lagu untuk anak-anak:

  • ingat-ingat lagi atau cari tahu lah lagu-lagu anak indah yang sudah ada; juga lagu-lagu rakyat/ daerah (bisa dari daerah mana saja). catatan: format lagu anak dan format lagu daerah mempunyai banyak sekali kesamaan, di antaranya: bagian-bagiannya sederhana, banyak pengulangan, memungkinkan dinyanyikan bersama-sama.
  • Dari lagu-lagu tersebut, saya yakin Anda sudah bisa membayangkan ‘bentuk’ lagu yang ‘pas’ untuk anak-anak: panjang lagunya, banyak melodi dan liriknya, etc.
  • Anda bisa coba ganti liriknya sesuai dengan kebutuhan/ situasi bersama anak. Menurut hemat saya ini tidak ‘haram’ kok :)
  • Setelah itu saya yakin Anda sudah lebih ‘advanced‘ lagi dalam ‘membuat’ lagu buat anak. Cobalah buat satu saja yang menurut Anda orisinil/ otentik.
  • ‘Bagi’lah lagu tersebut kepada orangtua-orangtua dan anak-anak lain. Bisa secara lisan/ langsung, atau dicatat/ direkam. Mintalah bantuan jika Anda kesulitan teknis.
  • Di jaman ‘informasi’ sekarang ini banyak sekali kanal untuk membaginya. Silakan gunakan kanal-kanal tersebut: lewat handphone, fasilitas social media dunia maya, etc.
  • Sering-seringlah bermain musik bersama anak Anda. Jika Anda ‘keukeuh’ menganggap diri Anda tidak bisa, ajaklah teman-teman Anda yang gemar bermain musik untuk bermusik di rumah Anda.
  • Sampaikanlah juga nilai-nilai luhur yang ingin Anda wariskan pada anak-anak dalam lagu-lagu yang Anda buat. Semakin sederhana tuturannya, semakin baik.
  • Menurut hemat saya, yang terpenting adalah ketulusan Anda, karena ternyata hal tersebut yang paling kuat ‘diinderai’ anak-anak.
  • Bersukarialah dan nikmati proses ini :) )

Akan bertambah indah jika kita melestarikan dan mengembangkan lagu-lagu untuk anak, baik menyanyikan yang sudah ada maupun ‘menciptakan’ yang baru. Dan SUNGGUH, jangan tergantung pada rekaman audio/ komersialisasi lagu-lagu anak. IMO lagu untuk anak adalah pengalaman yang AKTUAL. Mari :)

- P. B. Adi -

Lord Guide Me – part 1


Lord Guide Me | [music & lyrics: P. B. Adi] | © 2011, tala lestari

lord… guide me through this desert
it’s hot outside, i’m cold inside
for there will be storm
for there will be thunder
oh lord.. guide me… through this desert

lord guide through the night
it’s cold outside, i’m cold inside
for there will be rain
for there will be thunder
oh lord.. guide me… through the night

lord guide me through this tunnel
it’s dark in here, i’m cold inside
for there will be flood
for there’ll be no air to breathe
oh lord… guide me…

guitar tutorial/demo – “guitar solo ala ‘melayu’ no.1″

Akhirnya setelah setahun membuat gitar tutorial pertama, sekarang saya membuat gitar tutorial kedua. Sebenarnya ini bukan murni video tutorial tapi juga video demo. Tentang salah satu cara memainkan lagu dengan satu gitar di mana ada pola ritmik yang kental dimainkan nada-nada bass, melodi, dan juga harmoni.

Ada cerita menarik yang membuat saya bersemangat menjadikan video tutorial kedua ini. Suatu hari Senin, saya bermain di halaman sekolah tempat saya mengajar sebagai bagian dari acara exhibition ekstra kurikuler. Ketika sedang soundcheck, saya memainkan lagu yang ada di video tutorial ini. Salah satu peserta exhibition meminta saya untuk memainkannya lagi. “Pak, mainin lagi dong lagunya, mau saya rekam, boleh ya?” sambil mengaktifkan video recorder Blackberry-nya. Serta merta saya senang sekali :) karena sepanjang pengalaman saya, tidak banyak orang awam yang tertarik dengan lagu2 instrumental yang saya buat dan mainkan di gitar. Tapi Bapak yang satu ini benar-benar terhibur dan ingin mendokumentasikannya untuk dia dengar-dengar di rumah. Langsung saya mainkan dengan penuh semangat, sambil terlintas di kepala saya bahwa saya harus merekam lagu ini untuk dibagi juga di dunia maya.

Jadilah video ini saya buat, dengan bantuan mas Agus Leonardi untuk tata cahaya (karena merekamnya di malam hari), perekaman video dan audio, juga tata hasil rekam audionya.

Video ini dilandasi semangat berbagi semangat kepada teman-teman khususnya pemain gitar untuk terus mengoptimalkan alat musiknya, bahwa dengan cara yang sederhana kita dapat menghasilkan musik yang menyenangkan, membuat kita bergoyang, berdendang, dan siapa tahu juga dapat ‘menjelajah’ Nusantara.

Selamat menikmati video ini. Semoga bermanfaat, syukur-syukur (setidaknya) dapat menghibur. Terimakasih.

salam damai,

- PBA -

 

lagu: “guitar solo ala ‘melayu’ no.1″ (P. B. Adi)
© 2011, all rights reserved

============================

kamera video milik Bharata Eli Gulö
video diambil oleh Agus Leonardi
penata cahaya, penata audio dan peramu rekaman audio: Agus Leonardi
video diedit oleh Petrus Briyanto Adi

rekaman dilakukan di rumah AdoyBonitaPram di Cinere

P. B. Adi menggunakan:
CORT CEC 5 NAT, acoustic nylon guitar
Behringer B1 large diaphraghm condenser microphone
Behringer C4 pencil condenser microphones
Fishman AURA Acoustic Imaging Pedal – NYLON
Behringer MIC 100 tube pre-amp

INDAH: Respek dan Kebersamaan (revisited)

saya ingin mengawali dengan memberikan lagu ini sebagai teman Anda membaca tulisan ini. Semoga berkenan :)

Indah (P. B. Adi) * dinyanyikan oleh Adoy dan Bonita

=======================

Setiap kali melihat objek yang indah, saya selalu merasa bahagia. Jika ditanya “kenapa saya jadi bahagia?” saya sulit menjawabnya secara singkat… ehmmm secara panjang lebar juga sulit. Jawaban ‘ndak mutu’ yang bisa saya beri adalah bahwa “ya memang begitu…”. Ketika saya merenungkannya kembali, “mengapa hal yang indah membuat saya bahagia”, saya sampai pada pemikiran yang bisa jadi benar:

“mungkinkah keindahan itu adalah kebahagiaan?”

Bukan pembahasan filsafat yang akan saya sampaikan di sini (namun teman-teman boleh membahasnya tentunya, juga memberi masukan), tapi lebih kepada perasaan yang timbul saat merasakannya. Sebagai seorang pemusik yang sering membuat musik/ lagu, ternyata patokan saya dalam menilai apakah karya saya ini saya anggap indah atau tidak adalah jika musik/ lagu yang saya buat bisa menimbulkan perasaan bahagia atau tidak dalam diri saya.

Perasaan bahagia yang saya rasakan itu seperti apa? Wah bukan main sulitnya juga menerangkan hal ini. Tapi satu yang sangat ‘kental’ saya rasakan adalah ada perasaan yang mirip dengan: lega, terpuaskan, enak, plus ada yang berlebih yang bisa ‘dikeluarkan’ misalnya: ingin menceritakannya ke orang lain, menangis haru, mengajak orang lain ingin mendengarkannya, bersemangat untuk mengerjakan hal lain, merayakannya, dan sejenisnya.

Kembali lagi kepada indah (yang mungkin = bahagia). Hal-hal yang menurut saya indah, ternyata tidak pernah hanya satu unsur saja. Di dalamnya pasti ada beberapa unsur. Lagu yang indah misalnya, terdiri atas banyak sekali unsur dan elemen di dalamnya: nada yang lebih dari satu, terjadi suksesi antar bunyi di dalamnya sehingga memakan waktu (durasi) tertentu, mungkin ada beragam warna bunyi di dalamnya, mungkin ada lirik di dalamnya, dan sebagainya (bisa merujuk ke kultwit tentang bunyi di blog ini). Belum lagi dibarengi dengan konteks/ suasana yang mengiringi saya saat menikmatinya. Makin bertambah lagi hal-hal yang bersama ‘membentuk’ keindahannya. Bahagia sekali bisa menikmati kesatuan unsur-unsur dan konteks tersebut sebagai sebuah pengalaman.

Baru-baru ini banyak ketidakbahagiaan yang kita alami di negeri ini. Dua peristiwa yang masih ‘panas’ terasa adalah kerusuhan (maafkan istilah saya ini mungkin kurang tepat) di Pandeglang dan Temanggung. Peristiwa ini sangat menyedihkan, saya benar-benar menangis sedih atasnya. Tidak hanya sedih, tapi juga bercampur takut, kecewa, tidak nyaman, dan terlukai. Jauh dari kebersamaan, kesatuan, keindahan.. jauh dari kebahagiaan.

Saya yakin, semuanya merasa dan ingin mencapai kebahagiaan. Di pihak yang satu, mereka merasa tidak bahagia jika yang di luar mereka begitu. Di pihak yang lain mereka merasa punya hak untuk menjalankan ‘hidupnya’ sesuai yang mereka yakini untuk bisa bahagia. Ada ucapan yang mengatakan “tidak pernah ada kebahagiaan untuk semuanya”. Ucapan ini juga sering dijadikan ‘olok-olok’ kepada para ajang kontes ‘perempuan-perempuan cantik’ entah itu Miss World atau Miss Universe yang selalu mengumandangkan perdamaian dunia.

“Semua orang berhak untuk bahagia” dianggap tidak pernah akan tercapai, karena dalam hidup bersama orang lain (salah satu kodrat manusia yang saya percayai), pasti ada saatnya kebahagiaan satu orang/ pihak/ golongan ‘bentrok’ dengan kebahagiaan yang lain, artinya pasti ada yang kebahagiaan yang dikorbankan, salah satu bentuk yang beradab adalah kompromi. Namun sayangnya banyak sekali praktik yang tidak beradab namun populer untuk mengatasi kondisi tersebut, misalnya penindasan, penghilangan, dan penyangkalan :(

Saya teringat pada kata-kata Bapak saya:

“kebahagiaan itu bukan tujuan hidup, Dik. Kebahagian itu adalah pilihan dan jalan hidup.. dan hidup itu panggilan. Nah terserah, kamu terpanggil dan mau memilih serta menjalaninya ndak…”

Sampai saat ini saya terus berusaha mencerna apa maksud dari ucapan Bapak. Sekarang ini saya jadi berpikir bahwa ketika kebahagiaan itu dijadikan tujuan, -melihat kejadian akhir-akhir ini- sangat mungkin banyak pihak akan saling bertengkar, atau satu pihak menindas pihak lain, untuk mencapainya, yang adalah hak dan tujuan hidupnya. Namun ketika kebahagiaan kita jadikan pilihan dan jalan hidup, maka kita selalu diberi kesempatan untuk mengatur/ mengendalikan kehendak agar hidup yang terus kita jalani ini dipenuhi dengan kebahagiaan. Jika pengalaman kita artikan sebuah keutuhan dari suksesi antar peristiwa/ kejadian, maka menjadikan kebahagiaan sebagai pilihan dan jalan hidup berarti membuat agar keutuhan pengalaman hidup kita ini tersusun atas suksesi-suksesi dari kejadian-kejadian yang membahagiakan.

Setelah saya pikir-pikir kembali, ucapan Bapak tidak hanya berlaku untuk ‘kebahagiaan’, namun juga untuk nilai-nilai yang lain. Kedamaian, kejujuran, kebersamaan, keindahan, tidak akan kita capai sebagai pengalaman yang utuh jika hal-hal itu hanya jadi tujuan tanpa kita menjalankannya. Sebuah kondisi damai yang dicapai melalui pertumpahan darah dan penindasan tidak akan langgeng bisa terjadi karena kondisi damai tersebut tersusun atas suksesi-suksesi dari kejadian-kejadian yang justru bertentangan dengan damai (mis. pembunuhan, penindasan, penyangkalan, dan sejenisnya); ada (atau banyak) pihak yang menyimpan kesengsaraan, kebencian, dendam, perasaan tidak adil. Dan bukan tidak mungkin perasaan-perasaan itu diturunkan kepada lingkungannya, bahkan ke generasi berikutnya. Rantai selanjutnya bisa Anda bayangkan sendiri.

Jika kebahagiaan itu bukan tujuan hidup tapi pilihan dan jalan hidup, bagaimana caranya? Menurut saya, langkah pertama adalah menyadari bahwa kita adalah orang yang bahagia. Saya yakin sekali bahwa pasti ada.. ya pasti.. hal baik yang ada di diri kita. Mulai dari kondisi badan, indera-indera kita, kebisaan, pengetahuan, dan banyak sekali. Lalu keluarga kita, teman-teman, kerabat, dan seterusnya. Selanjutnya saya yakin Anda sudah mengumpulkan banyak sekali hal dalam daftar kebahagiaan Anda. Dan usul saya, jangan di-tapi-kan. Misalnya, “indera penglihatan saya baik sih, tapi saya buta warna” atau “anak saya lucu banget tapi nakalnya…”. Simpan ‘tapi-tapi’ itu. Fokuslah pada hal baik yang Anda punya. Semoga kita semakin senang dan bahagia pada/ atas diri kita masing-masing.

Dan kalau kita simak lagi alinea di atas, berarti setiap orang juga punya hal-hal baik sebagai ‘modal’ kebahagiaan bukan? Pada titik ini saya merasa sudah tidak lagi logis secara matematika populer. Saya merasa bahwa kebahagiaan di bumi ini jumlahnya bukan 100%. Jika ada orang lain semakin bahagia artinya prosentase kebahagiaan untuk saya berkurang, saya tidak percaya itu. Untuk ‘benda’ lain yang lebih konkrit, uang misalnya, sangat mungkin hal tersebut terjadi, tapi tidak pada kebahagiaan. Kecuali bagi yang mengidentikkan kebahagiaan dengan uang. Dan saya yakin jika kita bisa bahagia bersama, dunia ini akan jauh lebih indah :)

Saya indah, kamu indah, semuanya indah… Bersama semua, dunia makin indah.

Anda tertarik menyatakan ini? Mari :’)

- petrus briyanto adi -

=================

* rekaman lagu di atas dibuat dalam rangka produksi album .. yo’ mari berdendang .. “peduli musik anak”, © 2009, CUPU Records sekaligus sebagai undangan pernikahan sahabat kami Mas Ibut dan Mbak Anyi bulan Maret 2009.

MUSIK: Teman Hidup

dalam sebuah angkot, Rabu pagi pukul 07.00 WIB, seorang karyawati yang berpakaian rapi dalam perjalanan menuju kantornya mendengarkan rekaman lagu melalui headphone dari mp3 playernya.

dua orang pemuda menampilkan dua buah lagu di dalam bis patas ac menggunakan sebuah gitar dan satu buah shaker sambil menyanyi.

Selasa malam pukul 20.00 WIB, 4 orang bapak dan 17 orang ibu berkumpul bersama di sebuah rumah, berlatih koor untuk perayaan natal dua minggu depan..

setelah menyusui anaknya, seorang ibu meninabobokan si bayi.

sebuah band ternama ibukota sedang melakukan konser di suatu stadion, ditonton oleh puluhan ribu penggemarnya.

seorang pianis memainkan lagu-lagu instrumentalia di lobi sebuah hotel berbintang empat

seorang sound engineer sedang menyimak hasil kerjanya di depan sebuah monitor komputer dan monitor speaker seusai mixing hasil rekaman.

Kamis pagi, 08.00 WIB, belasan orang ibu-ibu berusia di atas 50 tahun berkumpul bersama di halaman parkir sebuah mal bersenam aerobik diiringi lagu “bang Toyib” yang diputar keras menggunakan 2 pasang speaker ‘saloon’.

siang hari di sebuah kampung, sekumpulan orang menabuh alat pukul sambil menari-nari diikuti oleh puluhan orang lain di belakangnya seusai panen hasil bumi.

Sama halnya dengan udara, musik –sadar atau tidak– selalu kita konsumsi setiap hari. Istilah mengkonsumsi mungkin jadi kurang tepat: mengalaminya lewat beragam cara –membuat, memainkan, mendengarkan (tiga cara utama mengalami musik) mungkin istilah yang lebih tepat– pasti terjadi dalam keseharian kita. Ilustrasi di atas hanyalah sebagian kecil dari banyak sekali bentuk pengalaman kita dengan musik. Saya yakin anda pun pasti mengalami musik dalam keseharian anda, entah sebagai pendengar, pemain, pencipta, atau apapun bentuk/ perannya.

Apakah musik itu? Apa saja yang terhitung sebagai musik? Apa yang bukan?

Saya tidak yakin kita bisa merespon pertanyaan tersebut dengan jawaban yang pasti. Terlalu banyak penjelasan tentang musik yang ada dalam literatur-literatur populer dan ilmiah. Kesemuanya tidak memberikan batasan yang sama tentang apa itu musik, tidak ada satu pun penjelasan verbal yang benar-benar dapat menjelaskan musik (termasuk tulisan ini). Mengapa bisa begitu? Ungkapan Elvis Costello berikut ini mungkin dapat menjadi alasannya: “Membicarakan musik sama saja dengan menari tentang arsitektur”. Jadi sebenarnya bagaimana caranya kita memahami musik jika kita tidak membicarakannya?

Tepat sekali, cara yang paling mujarab untuk memahami musik adalah mengalaminya. Saya menggunakan kata mengalami untuk menghindari penggunaan beberapa istilah sempit dalam bermusik: mendengarkan, memainkan, menciptakan. Karena (bahkan) dalam kegiatan mendengarkan musik kita pasti men’cipta’kan musik bagi diri kita sendiri; saat memainkan musik kita juga men’dengar’kan dan men’cipta’kannya; begitu juga saat menciptakan musik, kita pun melakukan kegiatan men’dengar’kan dan me’main’kannya.

Untuk lebih ‘merumitkan’ tulisan ini, mari kita lakukan sedikit ‘praktikum’ musik berikut ini:

“Ingat-ingatlah sebuah lagu/ komposisi musik yang sangat anda sukai, lagu/ komposisi musik favorit anda. Anda tidak perlu memutar rekamannya atau menyanyikan lagu tersebut (bahkan menyenandungkannya).

Silakan hening sejenak selama beberapa menit untuk mengingat lagu tersebut…….”

Baik… waktu praktikum telah usai. Saya akan mengajukan pertanyaan sederhana: “mana musik yang tadi anda bayangkan?”. Saya yakin jari telunjuk kita tidak akan bisa menunjukkan di mana letak persis musik itu. Mungkin kita akan menunjuk kepala, dada, perut, atau udara, atau bahkan bukan di mana-mana.

Praktikum sederhana tadi sedikitnya mengimplikasikan dua hal. Pertama, bahkan ‘tanpa ada’ musik pun kita masih dapat mengalaminya. Penelitian neuropsikologi menunjukkan bahwa setiap orang dapat ‘membayangkan’ atau ‘mendengarkan’ musik dalam pikirannya tanpa perlu ada musik yang secara aktual dibunyikan/ dimainkan/ diperdengarkan. Hanya kerusakan parah pada otak yang membuat kita tidak dapat ‘membayangkan’ atau ‘mendengarkan’nya. Kita dianugerahi Sang Pencipta kemampuan yang (ternyata) begitu dasar dan sederhana yaitu mampu mengalami musik. Hal ini berlanjut pada implikasi kedua: dengan bekal dasar dan sederhana tersebut (dalam tingkat yang sedikit lebih advanced) kita semua bisa menikmati musik. Betapa beruntungnya kita, bukan?

Di sinilah kita, sekarang, di saat ini, di ruangan tertentu, pada masa ini, berlaksa abad dan peradaban yang telah umat manusia jalani: musik tetap ada. Mari kita tengok lagi ilustrasi di awal tulisan ini. Begitu beragam praktik kita dengan musik dalam keseharian kita. Jadi sebenarnya manusia adalah makhluk yang ‘serius di musik’. Betapa tidak, setiap hari kita terlibat dengannya. Bukan hanya perasaan atau pikiran, bahkan tingkah laku motorik dan sosial kita juga (sedikit banyak) terlibat dengan musik.

Kontras dengan fakta tadi, saat kita ditanya “apakah kita musikal?” ternyata cukup banyak orang yang menganggap dirinya tidak musikal. Berbeda dengan fakta-fakta di atas, hampir sebagian besar masyarakat kita (mungkin yang hidup di wilayah urban) akan menganggap band-band papan atas ibukota sebagai musik pada urutan atas sedangkan nina-bobo ibu –yang selalu menemani tidurnya selama (setidaknya) setahun pertama usia bayinya, yang sekaligus merupakan pengenalan musik awal– berada di urutan bawah.

Mari kita simak ilustrasi/ kejadian berikut ini:

Dengan sebuah gitar, seorang guru musik di sebuah SD mengiringi anak-anak kelas dua menyanyi lagu “Laskar Pelangi”di dalam ruangan. Anak-anak itu begitu antusias dan senang. Mereka menyanyi dengan bersemangat dan lantang, tersenyum, dan bahkan ada yang sambil menari-nari mengikuti alunan lagu. Usai lagu itu dimainkan mereka semua bertepuk tangan dan berteriak girang. Seorang anak mendekati si guru musik dan bertanya kepadanya: “Pak, Bapak kenapa nggak jadi musisi aja?”, teman-temannya sekelas langsung menyambut pertanyaan itu: “Iya Pak, kenapa nggak jadi musisi aja?”. Si guru hanya tersenyum tulus dan geli mendengarkan pertanyaan anak-anak itu. :)

 

Kejadian ini adalah sebagian kecil dari banyak fakta yang menunjukkan bahwa tidak semua dari kita sadar benar tentang praktik kemusikalan kita. Yang terhitung sebagai musik hanya apa yang dianggap sebagai lagu populer yang sering kita lihat videonya di televisi atau kita dengar di radio-radio, yang rekamannya bisa kita beli di toko-toko CD & kaset, yang dimainkan di gedung konser, atau yang ditonton ribuan orang saat dimainkan di atas panggung dan lapangan luas. Lebih lanjut lagi, ide bahwa musik adalah sesederhana memberikan kenikmatan personal, untuk dibagi kesenangannya, untuk kesukariaan bersama dalam menghasilkan bebunyian sebagai rangkaian bunyi baru yang indah, atau untuk mempererat persahabatan dan kedamaian –kesemuanya itu– dianggap sebagai suatu hal yang tidak masuk akal, atau bahkan: terlalu idealis. Jika kita lihat lagi ilustrasi di awal tulisan ini, mungkin kita sudah mulai bisa merenungkan bahwa kesederhanaan fungsi musik ternyata justrulah sangat nyata dan aktual.

Jika kita ingat-ingat lagi lagu/komposisi musik favorit kita masing-masing, kita bisa mulai berpikir dan merasakan dengan sekujur tubuh kita: apa yang saya suka dari lagu itu; hal-hal baik apa yang saya dapat dari lagu itu; kualitas-kualitas berharga apa saja yang bisa saya ‘ambil’ dari lagu itu; pesan bernilai apa yang disampaikan oleh lagu itu; hal-hal baik apa yang bisa saya lakukan setelahnya. Musik akan kembali menjadi sosoknya yang sederhana dan lugu. Hubungan kita dengan musik akan terasa lebih akrab dan hangat. Musik bukan hanya sekedar benda dengar yang bermakna dengar yang ‘jauh’ dari keseharian kita, namun lebih dari itu, musik adalah teman hidup kita. Kita tidak bisa hidup tanpanya, walau (mungkin) tanpa kitapun musik telah, ada, dan akan selalu ada. Alam raya ini adalah saksinya.

Selamat menikmati musik :)

- Petrus Briyanto Adi -

>>>>>>>>>>>>>>>>>

Referensi:

Cook, Nicholas, Music a Very Short Introduction, Oxford University Inc, New York, 1998

Hodges, Donald A., Handbook of Music Psychology, Institute for Music Research Press, Texas, 1996

Sloboda, John A., Exploring the Musical Mind, Oxford University Press, 2004

under the old tree – part 1

Under the Old Tree adalah sebuah cerita pertemanan dan petualangan lima orang anak berusia 10-11 tahun, mencari warisan yang merupakan pesan dari almarhum kakek seorang dari mereka (Tina).

Lima sekawan ini adalah tokoh-tokoh utama dalam cerita Under the Old Tree ini. Perkenalkan:

Tina

adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakek dan neneknya. Kakeknya berusia 72 tahun dan sudah sakit-sakitan selama setahun belakangan ini. Tina adalah anak yang selalu mengalah jika dihadapkan pada keadaan mempertahankan keinginan atau melepasnya. Namun Tina sangat ulet dalam mengerjakan segala sesuatu, jarang terdengar keluhan atau keputusasaan dalam melakukan tugas-tugas atau memecahkan masalah.

Albert

adalah yang paling muda di antara kelima sekawan ini. Ia gemar berolah raga dan semua aktivitas yang menggunakan kekuatan dan kecepatan fisik. Ia juga adalah anak yang sangat spontan dalam mengemukakan pendapatnya. Begitu spontannya hingga kadang ucapannya tidak tersensor dan dapat menyinggung orang lain. Namun demikian, Albert adalah anak yang sangat tulus hatinya dan jujur mengungkapkan perasaannya.

Fitri

adalah anak yang sangat terampil. Dengan bahan-bahan atau media yang ada di sekitar, ia dapat membuat beberapa benda yang punya fungsi guna. Albert membahasakan kebisaan Fitri sebagai berikut: “kita tinggal saja Fitri di padang lalang ini, besok juga tempat ini sudah jadi town house!”

Nanda

adalah ‘sang profesor’ dari kumpulan ini. Ia pandai sekali dan begitu luas pengetahuan umumnya. Buku ilmu pengetahuan, koran, majalah, hingga berita televisi banyak ia ketahui isinya. Ia gemar sekali membaca, bacaan apa saja. Ia juga adalah anak yang sangat tertib dengan jadwal.

Bima

adalah seorang anak yang senang memberikan ide-ide yang menarik bagi teman-temannya. Ia juga dapat memimpin aktivitas-aktivitas bersama teman-temannya dan memuaskan semua teman-temannya. Bima juga berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab untuk kelompoknya.

====================

Keempat sepeda itu berjalan dengan cepat. Muka masing-masing dari mereka bersahabat dengan angin yang menerpanya: tersenyum, sedikit menyipit, dengan alis yang terangkat. “Yeehaaw…” teriak Albert yang membonceng Tina yang duduk sambil tertawa-tawa memeluk pinggang Albert dari belakang. Nanda mungkin satu-satunya dari mereka yang tidak menyipitkan mata karena kacamatanya sudah mengamankan pandangannya dari si angin. “Sekarang langsung ke pohon asik atau mau kemana dulu?” tanya Bima sang ‘kepala rombongan’. “Langsung ke pohon asik aja, Bim”, teriak Albert. “Aku ikut aja….” ujar Fitri yang suaranya nyaris tak terdengar terlibas angin.

kultwit #bunyi – part 2

Berikut ini adalah bagian kedua dari kultwit #bunyi tanggal 23-25 Juni 2010. Semoga bermanfaat ya teman-teman :) Silakan…

===========

Propagasi membuat getaran/gelombang menjadi berlipatganda dan tidak lagi merupakan getaran/gelombang tunggal. Sebuah benda bergetar (sumber getar) getaran tersebut dijalarkan oleh media melalui proses propagasi: getaran satu partikel media menggetarkan media yang lain. Sebagai contoh: media propagasi udara. udara terdiri atas banyak partikel. ketika satu partikel menjalar maka ia akan menggetarkan partikel-partikel lainnya. Bunyi yang kita dengar dalam kondisi normal/ umumnya (dengan media propagasi udara) tidaklah dihasilkan oleh gelombang tunggal.

Bunyi yang hanya terdiri atas satu getaran tunggal dinamakan pure tone. Dalam kenyataan sehari-hari, kita hampir tidak pernah mendengar pure tone karena bunyi yang kita dengar gelombangnya sudah terlipatganda dalam propagasinya. Bunyi yang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari adalah bunyi yang tersusun atas banyak gelombang, dinamakan complex tone.

Complex tone yang terdiri atas gelombang-gelombang yang berkelipatan akan menghasilkan definite pitch. Dalam bahasa kita, definite pitch adalah nada: bunyi yang relatif dapat diketahui tinggi/ rendahnya.

Sedangkan bunyi yang dihasilkan oleh gelombang-gelombang yang tidak berkelipatan adalah indefinite pitch. Bunyi ini (relatif) tidak bisa kita inderai dengn jelas nadanya. Contoh berikut semoga bisa menjelaskan beda keduanya: bunyi satu tuts piano yang dimainkan (definite) dan bunyi pintu diketuk (indefinite).

Kelipatan-kelipatan dari getaran dasar yang dihasilkan sumber bunyi dinamakan harmonics. Sebuah definite pitch tersusun atas gelombang dasar dengan frekuensi basal dan harmonicsnya. Contoh: nada A 440Hz tersusun dari gelombang 440Hz (frekuensi basal) 880Hz. (harmonics pertama) 1760Hz (harmonics kedua) dst. Pada hampir semua nada, besar energi dari frekuensi-frekuensi kelipatannya lebih rendah dibanding frekuensi sebelumnya. Dengan contoh yang sama dengan sebelumnya: pada nada A, decibel freq 440Hz > decibel freq 880Hz > decibel freq 1760Hz > dst.

Pada beberapa instrumen terjadi pengecualian. Eg. umumnya bunyi didgeridoo: decibel frekuensi basalnya lebih rendah daripada kelipatan pertamanya dan decibel frekuensi kelipatan keduanya (kembali) lebih rendah daripada decibel frekuensi kelipatan pertamanya. Jadi pada didgeridoo yang kita dengar jelas adalah frekuensi kelipatan pertamanya. Contoh penjelasan: Jika didgeridoo ditandai bernada A 110Hz, sebenarnya frekuensi basalnya adalah 55Hz.

Pada beberapa tweet sebelum ini saya menyampaikan tentang definite pitch sebagai bunyi yang relatif kita tahu tinggi/rendahnya atau nada. Pada kenyataannya tidak semua definite pitch dapat kita ketahui nadanya, tergantung lamanya bunyi itu berlangsung. Untuk dapat kita inderai sebagai nada, (rata-rata) dibutuhkan waktu lebih dari 50ms untuk terjadinya bunyi tersebut. Jika lebih singkat dari 50ms, kita akan mendengarnya sebagai ‘tik’ atau ‘pop’.

Yang menarik dari sebuah complex tone adalah kita mendengarnya sebagai satu nada padahal sebenarnya ada banyak (gelombang) harmonics di dalamnya. Penyebabnya: dalam ‘menangkap’ complex tone, mekanisme pendengaran kita akan lebih ‘menggarap’ frekuensi basal atau frekuensi yang paling besar decibelnya. Mekanisme ini memungkinkan kita untuk lebih fokus terhadap lingkungan. Bayangkan jika kita mendengar semua harmonics dari bunyi-bunyi di sekeliling kita. Para Darwinian percaya bahwa mekanisme ini ‘dipelajari’ dan berevolusi, menyesuaikan dengan kondisi untuk tetap survive.

===========

Jika ada dua (atau lebih) bunyi terjadi bersamaan maka dalam proses propagasi gelombangnya akan terjadi saling mempengaruhi/ interferensi. Secara objektif interferensi ada dua jenis yaitu melemahkan dan menguatkan.

Interferensi melemahkan terjadi ketika kedua (atau lebih) gelombang yang terjadi saling ‘mengganggu’/ ‘meniadakan gelombang yang lainnya. Interferensi menguatkan terjadi ketika kedua (atau lebih) gelombang padu, menambah energi, dan memperpanjang jalannya gelombang. Interferensi yang melemahkan terjadi karena beda frekuensi kedua (atau lebih) gelombang tersebut tidak mencerminkan hubungan kelipatan/ harmonicsnya.

Sedangkn interferensi yang menguatkan terjadi karena beda frekuensi kedua (atau lebih) gelombang tersebut merupakan hubungan kelipatan/ harmonicsnya. Pada interferensi melemahkan terjadi pelayangan > satu gelombang tersusul oleh gelombang lain dengan energi dan waktu getar yang berkurang relatif drastis. Sedangkan pada interferensi menguatkan terjadi penguatan > gelombang satu dan yang lain saling menambah energi dan waktu getar yang menjadi lebih panjang.

Contoh pelayangan adalah bunyi dari permainan gitar yang tidak tersetem dengan baik (fals). Pada interferensi melemah bunyi terdengar tidak stabil/ goyang. Bunyi dari kedua gelombang itu terdengar sebagai beberapa bunyi yang saling susul bukan satu paduan. Pada interferensi menguat bunyi terdengar stabil/ tidak goyang. Bunyi dari kedua gelombang itu terdengar sebagai satu paduan.

Dalam musik, gejala interferensi gelombang ini memberikan rasa khas bagi pendengar. Ini adalah dasar dari konsep konsonan dan disonan dalam musik. Misal pada instrumen gender Bali. Bilah-bilah ‘senada’ dirancang sedemikian rupa supaya mempunyai selisih frekuensi (tidak sama benar Hz-nya) supaya terjadi efek ‘goyang’. Beberapa efek pada sound proccesors bekerja berdasarkan gejala interferensi ini: chorus, flanger, cloner, etc.

Yang menarik adalah konsep konsonan dan disonan pada bunyi bisa berbeda-beda antar budaya. Sebagai contoh adalah perbedaan ‘standar skala antar nada’ pada musik Barat dan karawitan klasik Sunda (misalnya).

Pendidik musik James Mursell mengatakan bahwa pada beberapa kasus, kita mendengarkan musik lebih menggunakan pikiran dibanding telinga. (hampir) Semua praktik kreasi dan menampilkan musik melibatkan penataan beberapa gelombang bunyi. Pengetahuan dan pemahaman tentang gelombang dan bunyi niscaya akan membantu kita lebih dapat menikmati bunyi dan musik.

===========

Salah satu gejala menarik dalam persepsi bunyi adalah oktaf: yaitu dua nada dipersepsi sbg SAMA NADA, walaupun yang satu dianggap lebih tinggi dibanding yang lain. Dalam teori musik Barat, gejala ini dinamakan oktaf.

Dalam musik Barat diatonis, dari satu nada ke nada kelipatannya (frekuensinya) terdapat beberapa nada di antaranya. Dalam ‘range’ itu ada 12 nada dan nada ke-13 nya adalah SAMA NADA dengan nada ke-1 namun lebih tinggi. Tidak semua nada dari 12 nada tersebut mempunyai probabilita yang sama untuk dibunyikan dalam sebuah karya musik. Dalam penskalaan (pengaturan hubungan antar nada dalam rentang 12 nada) mayor, hanya tujuh nada yang probabilitanya besar utk dibunyikan dari 12 nada yang ada. Kita kenal dengan do re mi fa so la ti. Jarak dua nada do dinamakan Prima, do-re Sekon, do-mi Terts, do-fa Kuart… lalu Kuint, Sext, Septim. Jarak do ke do yang lebih tinggi (sesudah ti) dinamakan Okta (= delapan, seperti pada octopuss). Itulah mengapa bunyi dari gelombang yang lebih besar dua kali dibanding gelombang pertamanya dinamakan satu OKTAF lebih tinggi.

Gejala oktaf memungkinkan bapak-bapak bersuara rendah bisa bernyanyi bersama ibu-ibu dan anak-anak bersuara tinggi pada saat yang bersamaan (dengan lagu yang sama) dan tetap terdengar/ berkesan sama.

Berdasarkan pengalaman saya mengajar musik untuk anak-anak, kemampuan persepsi oktaf bukan sesuatu yang murni ‘nature’. Butuh latihan untuk terbiasa dengannya. Mungkin itu pula sebabnya mengapa Ibu adalah pengajar ‘musik’ utama untuk anak, karena umumnya rentang suara Ibu (yang tinggi) sama dengan rentang suara anak-anak.

Implikasi: dalam mengajarkan lagu kepada anak-anak usahakan untuk menggunakan rentang suara si anak, hindari penggunaan oktaf di atas atau di bawahnya.

===========

Beberapa diskusi dan komen:

IndraAziz : @pbadi menarik bro, pemain sax wajib melatih spektrum harmonics tsb, jika tidak, tone yang dihasilkan akan terdengar “encer” #bunyi (cont) 24 Juni 2010 2:08:12 via UberTwitter in reply to pbadi

pbadi : @IndraAziz Dalam bernyanyi jg begitukah, Bro? Re: spektrum harmonics.

IndraAziz : Prinsipnya sama, tetapi tidak ada latihan khusus bro RT @pbadi: @IndraAziz Dalam bernyanyi jg begitukah, Bro? Re: spektrum harmonics. #bunyi 24 Juni 2010 9:26:19 via UberTwitter

===========

adihrespati : @pbadi Tanya, boleh? Mungkinkah bunyi tertentu secara umum (mungkin bahkan universal) lebih disukai dibanding bunyi lain?

@adihrespati Menarik sekali pertanyaan mas. Jawaban saya adalah mungkin. Namun yang jelas, ada kriteria bunyi yang dapat ditolerir.

@adihrespati maksud ditolerir di sini adalah berada pada ambang penginderaan.

@adihrespati pada properti frekuensi, ambang peenginderaan kita adalah 20Hz-20kHz. Pada batas bawah dan atas bisa jadi kita tidak nyaman mendengarnya.

@adihrespati jika rendah sekali akan terdengar buzzing dan shaking, jika terlalu tinggi memekakkan telinga.

@adihrespati juga terjadi pada properti amplitudo, terlalu kecil tidak akan terdengar, terlalu besar maka tekanan udaranya bisa mrusak membran telinga > sakit.

@adihrespati tapi yang saya sampaikan itu adalah bunyi tunggal > satu pitch, satu waktu, energi dan timbre yang konstan.

@adihrespati saya percaya bahwa asosiasi ekstra bunyi sangat mempengaruhi disukai/ tidaknya bunyi.

@adihrespati dan yang sangat penting adalah kesesuaian dengan konteks.

@adihrespati Misal, penggemar kue putu yang sedang ingin makan kue putu sangat mungkin mendengar nada E 660Hz dr pluit uap tukang putu sebagai hal yang menyenangkan.

@adihrespati Namun jika konteksnya adalah ibunya melarang “sudah! jangan jajan kue putu terus!”, bunyi tersebut mungkin jadi bunyi yang menyedihkan.

*************************************************************************

Komen dari saudara @IndraAziz:

IndraAziz @pbadi bayi diperdengarkan musik saat terbangun, bila ia tertidur musik dimatikan, melatih bayi u/ mendengar, bukan mengacuhkan #bunyi tsb. 23 Juni 2010 22:00:05 via UberTwitter

===========

Komen dari saudara @bobycozy :

bobycozy : Time based effects RT @pbadi Beberapa efek pada sound proccesors bekerja berdasarkan gejala interferensi ini: chorus, flanger, cloner, etc.

===========

Terimakasih banyak, salam damai,

- P. B. Adi -

kultwit #bunyi – part 1

Berikut ini adalah rangkuman dari kul-twit tentang #bunyi di Twitter dari tanggal tanggal 23 hingga 25 Juni 2010. Tulisan ini saya bagi jadi dua bagian agar lebih memudahkan teman-teman untuk membacanya (tidak kepanjangan). Supaya lebih jelas, singkatan-singkatan yang digunakan saat tweet diperbaiki begitu juga ada beberapa ralat atas kesalahan pengetikan dalam resume ini. Selamat membaca, semoga mendapat manfaat dari tulisan ini.

===========

Apakah ada kondisi sunyi (tdk ada bunyi)?

Bunyi sebagai objek terjadi dari getaran (vibrasi) yang dijalarkan (propagasi). Jika ada getaran namun tidak ada penjalaran maka bunyi tidak bisa terjadi. butuh media penjalaran agar bunyi bisa terjadi. Beberapa media yang biasanya menjalarkan getaran adalah udara dan air. Adanya media penjalar getaran menyebabkan getaran bunyi dapat sampai ke rangkaian alat yang dapat menterjemahkannya sebagai bunyi: telinga. Telinga bertugas menangkap jalaran getaran. informasi itu diproses secara kompleks oleh rangkaian membrane dan tulang-tulang di dalam liang telinga. Rangkaian proses tersebut tersampaikan kepada sel syaraf ke otak. otak kita memberi makna atas informasi tersebut sebagai (yang kita sebut dengan) “bunyi”. Kita menamakan proses dari “getaran hingga otak kita memberi makna sebagai bunyi” sebagai mendengar.

Tidak semua getaran yang terjalarkan dan ‘ditangkap’ oleh telinga kita dapat kita dengar. Hanya getaran dengan frekuensi tertentu yang dapat kita dengar. Pada umumnya getaran yang bisa kita dengar bunyinya adalah yang berfrekuensi 20 hingga 20.000 Hz. Frekuensi getaran adalah banyaknya getaran yang terjadi dari sebuah sumber getar dalam satu satuan waktu. Satuan frekuensi getar yang umum digunakan adalah Hertz (Hz): banyaknya getaran setiap detiknya. Frekuensi di bawah 20Hz dinamakan frekuensi di bawah ambang pendengaran kita atau infrasonik. Frekuensi di atas 20.000 Hz dinamakan frekuensi di atas ambang pendengaran kita atau ultrasonik.

Jadi: Adakah kondisi tidak ada bunyi?

Secara objektif di luar subjek, ADA: jika tidak ada objek di lingkungan yang bergetar dan tidak ada penjalaran. Namun sebenarnya sumber getar dan media jalar getar tidak hanya di luar tubuh manusia. Sirkulasi darah dan kerja syaraf kita juga merupakan sumber getaran, dan getaran tersebut berada dalam ambang frekuensi dengar kita. Itu sebabnya dalam kondisi lingkungan yang sunyi kita bisa mendengar (setidaknya) dua pitch dari dalam tubuh kita. Bunyi yang rendah adalah sirkulasi darah kita, dan bunyi yang tinggi adalah kerja sistem syaraf. sirkulasi darah dan kerja syaraf kita juga merupakan sumber getaran, dan getaran tersebut berada dalam ambang frekuensi dengar kita. Jadi sebenarnya mustahil bagi kita untuk mengisolasi diri dari kondisi ‘mendengar’ bunyi.

Namun kita bisa untuk tidak ‘mengindahkan’ bunyi sehingga tidak kita dengarkan. Di sini kita bisa melihat beda antara mendengar dan mendengarkan. Semua getaran yang terjadi di antara 20-20KHz dan terjalar hingga ‘tertangkap’ oleh telinga dapat kita dengar. Memberi perhatian atas apa yang kita dengar adalah mendengarkan.

Sunyi bisa diartikan tiada bunyi. Namun ia juga bisa diartikan sebagai wadah atau media bunyi.

===========

Bunyi mempunyai empat properti objektif yang masing-masing mempunyai kualitas persepsi. Properti objektif pertama adalah frekuensi: banyaknya getaran terjadi pada suatu waktu tertentu. Semakin tinggi frekuensi getaran kita mempersepsinya sebagai bunyi yang tinggi nadanya. Sebaliknya semakin rendah frekuensi getaran kita mempersepsinya sebagai bunyi yang rendah nadanya. Kualitas persepsi atas properti objektif frekuensi adalah pitch atau nada (tinggi rendahnya bunyi).

Properti objektif kedua dari bunyi adalah energi bunyi. besar energi bunyi tergantung atas simpang getar sumber bunyi/ getar. Besarnya energi getaran bunyi seharga dengan besar simpang getaran/amplitudo. Semakin besar amplitudo semakin besar energi getaran/bunyi. Satuan untuk amplitudo sama dengan satuan jarak, satuan energi yang dihasilkan adalah decibel (dB). Kualitas persepsi atas energi bunyi adalah kekerasan bunyi (loudness). Semakin besar energinya kita mempersepsinya sebagai bunyi yang keras. Sebaliknya, semakin kecil energi dari getaran/ bunyi kita dengar sebagai bunyi yang lembut (soft).

Properti objektif ketiga dari bunyi adalah kompleksitas getaran/ gelombang. Bunyi yang kita dengar dalam kondisi normal/ umumnya (dengan media propagasi udara) tidaklah dihasilkan oleh gelombang tunggal. Sebuah benda bergetar (sumber getar) getaran tersebut dijalarkan oleh media mlalui proses propagasi. satu partikel media menggetarkan media yang lain. Sebagai contoh: media propagasi udara. udara terdiri atas banyak partikel. Ketika satu partikel menjalar maka ia akan menggetarkan partikel-partikel lainnya. Propagasi membuat getaran/gelombang menjadi berlipatganda dan tidak lagi getaran/gelombang tunggal.  Setiap sumber getaran mempunyai keunikan getarannya sendiri. sehingga kualitas getaran yang terjalarkan jugalah unik dan tidak tunggal. Kompleksitas tersebut kita persepsi sebagai timbre atau warna bunyi. Timbre adalah kualitas persepsi bunyi yang sulit untuk didefinisikan. namun saya yakin sangat mudah untuk dirasakan. Jika ada dua bunyi yang terjadi bersamaan, dengan pitch dan kekerasan yang sama, tapi kita mendengarnya sebagai dua bunyi yang berbeda, maka perbedaan itu adalah timbre. Contoh timbre paling sederhana adalah saat kita menyuarakan bunyi O dan A, walau dengan nada dan kekerasan yang sama. Contoh lebih kompleksnya adalah kita bisa membedakan suara Freddy Mercury dan @IndraAziz walaupun menyanyikan lagu yang sama di key yang sama.

Properti objektif keempat dari bunyi adalah waktu terjadinya getaran/gelombang/bunyi. Untuk getaran/gelombang/bunyi dapat terjadi pastilah membutuhkan waktu. dari satuan getaran kita bisa melihatnya >> banyak getaran per satuan waktu = n/s. Kualitas persepsi atas properti waktu tersebut adalah durasi.

Tidaklah salah jika beberapa orang mendefinisikan musik sebagai tata bunyi (dengan segala kombinasi propertinya) menghasilkan sesuatu yang khas didengar.

- P. B. Adi -

kultwit #livingvalues – part 1

Berikut ini adalah rangkuman dari kul-twit tentang #livingvalues di Twitter dari tanggal tanggal 9 & 10 Juli 2010. Agar lebih jelas, singkatan-singkatan yang digunakan saat tweet diperbaiki begitu juga ada beberapa ralat atas kesalahan pengetikan dalam resume ini. Selamat membaca, semoga mendapat manfaat dari tulisan ini.

===========

Lima kebutuhan primer perasaan manusia adalah:

  1. loved,
  2. respected,
  3. valued,
  4. understood,
  5. safe.

Dipostulatkan bahwa terpenuhinya lima kebutuhan tersebut akan mengaktualkan potensi individu.

Ada empat pilar pendidikan:

  1. learn to know,
  2. learn to do,
  3. learn to be, dan
  4. learn to live with others.

Keempat pilar tersebut BERSAMA2 ‘menjaga’ dan menjadi pondasi. Satu pilar tidak bisa mengganti atau mengganggu pilar yang lain. Saat ini learn to live with others sering terbengkalaikan dengan terlalu menekankan pada learn to be.

Kebutuhan loved, respected, valued, understood, safe adalah kebutuhan setiap orang. Karenanya learn to live with others harus saling memberikan kebutuhan tersebut. Tidak tercukupinya/ pembengkalaian atas ter’zolimi’nya lima kebutuhan dasar tersebut dapat menyebabkan spiral tingkah laku mengarah ke hal yang merugikan. Marah adalah salah satu contohnya. Marah bukanlah emosi primer, ia adalah hasil dari perasaan: tak dicintai/ tak dihargai/ tak dipahami/ disalahartikan .

Jika tingkah laku mengarah ke hal negatif dan respons atasnya tidak sesuai dengan lima kebutuhan dasar perasaan maka akan terbentuk spiral negatif. Hukuman (saja) atau yang berlebihan atau tidak relevan atas suatu tingkah laku negatif, tidak akan baik menangani tingkah laku negatif. Celaan, mempermalukan, tidak memperhitungkan adalah contoh tingkah laku yang tidak relevan sebagai respons atas tingkah laku negatif. Saya rasa kutukan juga begitu (tidak relevan sebagai respon atas tingkah laku negatif).

Pemenuhan lima kebutuhan primer perasaan (loved, respected, valued, understood, safe) adalah tugas bersama untuk bersama – to live with others.

Akar kata pendidikan (dalam bahasa Inggris > education) adalah educare (latin) yang artinya “to draw out someone’s potential”. Jika terpenuhinya lima kebutuhan primer perasaan adalah prasyarat untuk teraktualkannya potensi maka pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah tugas pendidikan. Dan karena pemenuhan lima kebutuhan primer perasaan adalah tugas bersama untuk bersama maka kita semua adalah pendidik bagi diri sendiri dan orang lain.

Salah satu implikasi dari lima kebutuhan primer dan pilar “to live with others” adalah: mari saling memberikan perasaan: loved, respected, valued, understood, safe kepada sesama.

Hal penting yang ‘menyelimuti’ pendidikan perlu diperhatikan (apapun materi/subjeknya). bahasa kerennya “atmosfer” atau suasana. Atmosfer pendidikan sangat perlu diciptakan untuk bisa mbantu atau mendukung pemenuhan lima kebutuhan primer perasaan. Atmosfer yang mendukung pemenuhan lima kebutuhan primer perasaan itu diistilahkan sebagai “suasana yang bermuatan nilai”/ “values-based atmosphere”.

Di sini nilai bisa diartikan sebagai hal-hal inti/ penting/ sangat berharga yang sesuai atau mendukung pemenuhan lima kebutuhan primer perasaan. Kasih sayang, respek, kedamaian, pengertian, toleransi, keutuhan, kejujuran, kerendahhatian, adalah beberapa dari nilai-nilai yang dimaksud. Nilai-nilai tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri, tapi berkaitan satu sama lain. Dan yang lebih penting lagi, nilai-nilai tersebut perlu untuk di’hidup’i/ dijalankan dalam hidup sehari-hari. Itulah mengapa dinamakan living values.

Kultwit #livingvalues bag.1 ini terinspirasi oleh alm. pak AT Mahmud yang bagi saya adalah sosok nilai yang hidup yaitu kesederhanaan. Terimakasih

- P. B. Adi -