kultwit #bunyi – part 1

Berikut ini adalah rangkuman dari kul-twit tentang #bunyi di Twitter dari tanggal tanggal 23 hingga 25 Juni 2010. Tulisan ini saya bagi jadi dua bagian agar lebih memudahkan teman-teman untuk membacanya (tidak kepanjangan). Supaya lebih jelas, singkatan-singkatan yang digunakan saat tweet diperbaiki begitu juga ada beberapa ralat atas kesalahan pengetikan dalam resume ini. Selamat membaca, semoga mendapat manfaat dari tulisan ini.

===========

Apakah ada kondisi sunyi (tdk ada bunyi)?

Bunyi sebagai objek terjadi dari getaran (vibrasi) yang dijalarkan (propagasi). Jika ada getaran namun tidak ada penjalaran maka bunyi tidak bisa terjadi. butuh media penjalaran agar bunyi bisa terjadi. Beberapa media yang biasanya menjalarkan getaran adalah udara dan air. Adanya media penjalar getaran menyebabkan getaran bunyi dapat sampai ke rangkaian alat yang dapat menterjemahkannya sebagai bunyi: telinga. Telinga bertugas menangkap jalaran getaran. informasi itu diproses secara kompleks oleh rangkaian membrane dan tulang-tulang di dalam liang telinga. Rangkaian proses tersebut tersampaikan kepada sel syaraf ke otak. otak kita memberi makna atas informasi tersebut sebagai (yang kita sebut dengan) “bunyi”. Kita menamakan proses dari “getaran hingga otak kita memberi makna sebagai bunyi” sebagai mendengar.

Tidak semua getaran yang terjalarkan dan ‘ditangkap’ oleh telinga kita dapat kita dengar. Hanya getaran dengan frekuensi tertentu yang dapat kita dengar. Pada umumnya getaran yang bisa kita dengar bunyinya adalah yang berfrekuensi 20 hingga 20.000 Hz. Frekuensi getaran adalah banyaknya getaran yang terjadi dari sebuah sumber getar dalam satu satuan waktu. Satuan frekuensi getar yang umum digunakan adalah Hertz (Hz): banyaknya getaran setiap detiknya. Frekuensi di bawah 20Hz dinamakan frekuensi di bawah ambang pendengaran kita atau infrasonik. Frekuensi di atas 20.000 Hz dinamakan frekuensi di atas ambang pendengaran kita atau ultrasonik.

Jadi: Adakah kondisi tidak ada bunyi?

Secara objektif di luar subjek, ADA: jika tidak ada objek di lingkungan yang bergetar dan tidak ada penjalaran. Namun sebenarnya sumber getar dan media jalar getar tidak hanya di luar tubuh manusia. Sirkulasi darah dan kerja syaraf kita juga merupakan sumber getaran, dan getaran tersebut berada dalam ambang frekuensi dengar kita. Itu sebabnya dalam kondisi lingkungan yang sunyi kita bisa mendengar (setidaknya) dua pitch dari dalam tubuh kita. Bunyi yang rendah adalah sirkulasi darah kita, dan bunyi yang tinggi adalah kerja sistem syaraf. sirkulasi darah dan kerja syaraf kita juga merupakan sumber getaran, dan getaran tersebut berada dalam ambang frekuensi dengar kita. Jadi sebenarnya mustahil bagi kita untuk mengisolasi diri dari kondisi ‘mendengar’ bunyi.

Namun kita bisa untuk tidak ‘mengindahkan’ bunyi sehingga tidak kita dengarkan. Di sini kita bisa melihat beda antara mendengar dan mendengarkan. Semua getaran yang terjadi di antara 20-20KHz dan terjalar hingga ‘tertangkap’ oleh telinga dapat kita dengar. Memberi perhatian atas apa yang kita dengar adalah mendengarkan.

Sunyi bisa diartikan tiada bunyi. Namun ia juga bisa diartikan sebagai wadah atau media bunyi.

===========

Bunyi mempunyai empat properti objektif yang masing-masing mempunyai kualitas persepsi. Properti objektif pertama adalah frekuensi: banyaknya getaran terjadi pada suatu waktu tertentu. Semakin tinggi frekuensi getaran kita mempersepsinya sebagai bunyi yang tinggi nadanya. Sebaliknya semakin rendah frekuensi getaran kita mempersepsinya sebagai bunyi yang rendah nadanya. Kualitas persepsi atas properti objektif frekuensi adalah pitch atau nada (tinggi rendahnya bunyi).

Properti objektif kedua dari bunyi adalah energi bunyi. besar energi bunyi tergantung atas simpang getar sumber bunyi/ getar. Besarnya energi getaran bunyi seharga dengan besar simpang getaran/amplitudo. Semakin besar amplitudo semakin besar energi getaran/bunyi. Satuan untuk amplitudo sama dengan satuan jarak, satuan energi yang dihasilkan adalah decibel (dB). Kualitas persepsi atas energi bunyi adalah kekerasan bunyi (loudness). Semakin besar energinya kita mempersepsinya sebagai bunyi yang keras. Sebaliknya, semakin kecil energi dari getaran/ bunyi kita dengar sebagai bunyi yang lembut (soft).

Properti objektif ketiga dari bunyi adalah kompleksitas getaran/ gelombang. Bunyi yang kita dengar dalam kondisi normal/ umumnya (dengan media propagasi udara) tidaklah dihasilkan oleh gelombang tunggal. Sebuah benda bergetar (sumber getar) getaran tersebut dijalarkan oleh media mlalui proses propagasi. satu partikel media menggetarkan media yang lain. Sebagai contoh: media propagasi udara. udara terdiri atas banyak partikel. Ketika satu partikel menjalar maka ia akan menggetarkan partikel-partikel lainnya. Propagasi membuat getaran/gelombang menjadi berlipatganda dan tidak lagi getaran/gelombang tunggal.  Setiap sumber getaran mempunyai keunikan getarannya sendiri. sehingga kualitas getaran yang terjalarkan jugalah unik dan tidak tunggal. Kompleksitas tersebut kita persepsi sebagai timbre atau warna bunyi. Timbre adalah kualitas persepsi bunyi yang sulit untuk didefinisikan. namun saya yakin sangat mudah untuk dirasakan. Jika ada dua bunyi yang terjadi bersamaan, dengan pitch dan kekerasan yang sama, tapi kita mendengarnya sebagai dua bunyi yang berbeda, maka perbedaan itu adalah timbre. Contoh timbre paling sederhana adalah saat kita menyuarakan bunyi O dan A, walau dengan nada dan kekerasan yang sama. Contoh lebih kompleksnya adalah kita bisa membedakan suara Freddy Mercury dan @IndraAziz walaupun menyanyikan lagu yang sama di key yang sama.

Properti objektif keempat dari bunyi adalah waktu terjadinya getaran/gelombang/bunyi. Untuk getaran/gelombang/bunyi dapat terjadi pastilah membutuhkan waktu. dari satuan getaran kita bisa melihatnya >> banyak getaran per satuan waktu = n/s. Kualitas persepsi atas properti waktu tersebut adalah durasi.

Tidaklah salah jika beberapa orang mendefinisikan musik sebagai tata bunyi (dengan segala kombinasi propertinya) menghasilkan sesuatu yang khas didengar.

- P. B. Adi -

Advertisement

One thought on “kultwit #bunyi – part 1

  1. Pingback: INDAH: Respek dan Kebersamaan (revisited) « MY MUSIC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s