Musik: teks dan konteks – (Pram menyanyikan penggalan lagu “Bangun Pagi”*)

Featured

Musik sangat kaya akan nilai. Salah satu cara pandang yang mudah dan umum adalah melihatnya dari dua nilai besar yaitu: nilai intrinsik dan ekstrinsik. Nilai intrinsik musik adalah nilai yang secara mandiri sudah ada pada musik itu sendiri: bunyi-bunyian yang ada di dalamnya, tata dan strukturnya, dan sejenisnya; sedangkan nilai ekstrinsik adalah hal-hal ‘di luar’ musik yang kita ‘assign’ kepada musik, misalnya: pemilihan lirik untuk tujuan tertentu dari sebuah lagu, pengaruh kebiasaan/ tradisi/ budaya dalam memaknai sebuah karya musik, dan sejenisnya. Pemahaman atas kedua nilai ini sangat bisa menimbulkan perdebatan, bahkan [dapat] memunculkan dua kubu pemahaman tentang musik: intrinsik vs ekstrinsik. Beberapa pendidik musik melihatnya sebagai wacana tentang: teks [intrinsik] dan konteks [ekstrinsik].

Tulisan ini tidak akan membicarakan hal ‘rumit’ di atas. Saya hanya mau berbagi cerita tentang suatu hal sederhana yang ada kaitannya dengan “teks dan konteks” yang terjadi pada anak kami saat menyanyikan sebuah lagu anak-anak yang berjudul “Bangun Pagi”.

Pramusetya Kanca [nama panggilan Pram, anak kami, sekarang berusia 5 tahun 1 bulan, sekolah TK A di Charitas - Pondok Labu] senang bernyanyi. Ia dapat menyanyikan ulang kalimat/ frase melodi sederhana yang dia dengar sesuai dengan pitch dan teksturnya. Dia juga ‘taat’ dengan ritme musik/ lagu. Pram juga suka berhitung, seperti banyak anak lainnya, hitungan yang ia lakukan per sepuluhan: dari satu hingga sepuluh, kemudian sampai dua puluh, dan hari Sabtu lalu sambil membaca tabel angka Pram bisa menghitung sampai tiga puluh sembilan :)

Pada hari-hari awal sekolahnya, Pram banyak belajar lagu yang baru baginya, salah satunya adalah lagu “Bangun Pagi”. Saya menduga banyak dari Anda mengenal lagu “Bangun Pagi” ini. Lirik, notasi, dan audionya adalah sebagai berikut:

bangun pagi

Suatu hari sepulang sekolah, dalam perjalanan Pram bernyanyi lagu tersebut namun hanya bait pertama saja dan itu pun tidak sesuai dengan yang diajarkan. Ia menyanyikannya demikian:


Ibunya berusaha meralat lagu yang dinyanyikan, namun Pram tidak setuju dan merasa hitungan harus sampai angka sepuluh :)

Pengalaman sederhana ini erat sekali dengan bahasan “teks dan konteks” lagu. Secara “teks” kalimat/ frase untuk bait pertama lagu ini sudah terpenggal, terjeda. Namun ternyata bagi Pram secara “konteks” belum lah usai, karena menurutnya jika ingin memenggal hitungan adalah per sepuluhan. Untuk mengatasi masalah tersebut dia membuat melodi sendiri untuk mengusaikan [cadens] hitungan dengan lirik “sembilan sepuluh”. Bentuknya pun unik, seperti sebuah coda dari sebuah lagu. Seringkali ia menyanyikan bagian “sembilan sepuluh” dengan perlambatan sehingga lebih terasa sebagai sebuah akhir kalimat.

bangun pagi - prams version

Bagi saya pengalaman ini cukup menarik, saya jadi melihat-lihat lagi pengalaman saya ketika membuat lagu atau lagu-lagu lain yang sudah tercipta, bagaimana si pembuat lagu/ musik membuat bagian-bagiannya, menatanya, memulainya, dan mengakhirinya; jika sebuah lagu diberi lirik, pertimbangan apa sajakah yang perlu diambil, bagaimana penyelesaiannya jika pada suatu alur ada yang dirasa kurang sesuai, etc.

Saya yakin banyak hal-hal menarik/ unik/ lucu yang terjadi pada anak-anak Anda dalam perkembangan [musikal] nya. Dan bisa jadi kelucuan-kelucuan itu adalah contoh dari ‘masalah’ musikal yang seringkali dihadapi pemusik dalam karya-karyanya.

Mari semakin kayakan musik kita dengan ‘teks’ dan ‘konteks’. Selamat bermusik dengan anak-anak Anda :)

- p. b. adi -

* = saya tidak tahu siapa pencipta lagu ini dan apakah benar ini judulnya. Untuk kepentingan pemahaman informasi, saya sertakan notasi yang saya buat sendiri dari ingatan saya atas lagu ini dan juga file audionya.

Impera PBA Signature Fretless Bass

Impera PBA Signature Fretless Bass – 5 strings
by Impera Guitar Co. luthier: Raka Shiddiq

===================================

5 piece indonesian rosewood – mahogany neck
mahogany body wing
flame maple top & back cover
macassar ebony fingerboard
hipshot a-style brass bridge
hipshot ultralite tuners
emg 45 csx pickup
emg bqc system preamp

photographer: Adrian Yyen

 

music/ compositions:

“some basslines” (P. B. Adi) © 2012, petrus briyanto adi | ”summertime” (G. Gershwin) | ”orientation #2″ (P. B. Adi) © 2012, petrus briyanto adi

===================================

audio tracks in this photo profile were recorded with Impera PBA Signature Fretless Bass. Recorded with Genz-Benz Shuttle 6.0 – PresSonus AudioBox USB – Logic Pro 8.

Lord Guide Me – part 1


Lord Guide Me | [music & lyrics: P. B. Adi] | © 2011, tala lestari

lord… guide me through this desert
it’s hot outside, i’m cold inside
for there will be storm
for there will be thunder
oh lord.. guide me… through this desert

lord guide through the night
it’s cold outside, i’m cold inside
for there will be rain
for there will be thunder
oh lord.. guide me… through the night

lord guide me through this tunnel
it’s dark in here, i’m cold inside
for there will be flood
for there’ll be no air to breathe
oh lord… guide me…

guitar tutorial/demo – “guitar solo ala ‘melayu’ no.1″

Akhirnya setelah setahun membuat gitar tutorial pertama, sekarang saya membuat gitar tutorial kedua. Sebenarnya ini bukan murni video tutorial tapi juga video demo. Tentang salah satu cara memainkan lagu dengan satu gitar di mana ada pola ritmik yang kental dimainkan nada-nada bass, melodi, dan juga harmoni.

Ada cerita menarik yang membuat saya bersemangat menjadikan video tutorial kedua ini. Suatu hari Senin, saya bermain di halaman sekolah tempat saya mengajar sebagai bagian dari acara exhibition ekstra kurikuler. Ketika sedang soundcheck, saya memainkan lagu yang ada di video tutorial ini. Salah satu peserta exhibition meminta saya untuk memainkannya lagi. “Pak, mainin lagi dong lagunya, mau saya rekam, boleh ya?” sambil mengaktifkan video recorder Blackberry-nya. Serta merta saya senang sekali :) karena sepanjang pengalaman saya, tidak banyak orang awam yang tertarik dengan lagu2 instrumental yang saya buat dan mainkan di gitar. Tapi Bapak yang satu ini benar-benar terhibur dan ingin mendokumentasikannya untuk dia dengar-dengar di rumah. Langsung saya mainkan dengan penuh semangat, sambil terlintas di kepala saya bahwa saya harus merekam lagu ini untuk dibagi juga di dunia maya.

Jadilah video ini saya buat, dengan bantuan mas Agus Leonardi untuk tata cahaya (karena merekamnya di malam hari), perekaman video dan audio, juga tata hasil rekam audionya.

Video ini dilandasi semangat berbagi semangat kepada teman-teman khususnya pemain gitar untuk terus mengoptimalkan alat musiknya, bahwa dengan cara yang sederhana kita dapat menghasilkan musik yang menyenangkan, membuat kita bergoyang, berdendang, dan siapa tahu juga dapat ‘menjelajah’ Nusantara.

Selamat menikmati video ini. Semoga bermanfaat, syukur-syukur (setidaknya) dapat menghibur. Terimakasih.

salam damai,

- PBA -

 

lagu: “guitar solo ala ‘melayu’ no.1″ (P. B. Adi)
© 2011, all rights reserved

============================

kamera video milik Bharata Eli Gulö
video diambil oleh Agus Leonardi
penata cahaya, penata audio dan peramu rekaman audio: Agus Leonardi
video diedit oleh Petrus Briyanto Adi

rekaman dilakukan di rumah AdoyBonitaPram di Cinere

P. B. Adi menggunakan:
CORT CEC 5 NAT, acoustic nylon guitar
Behringer B1 large diaphraghm condenser microphone
Behringer C4 pencil condenser microphones
Fishman AURA Acoustic Imaging Pedal – NYLON
Behringer MIC 100 tube pre-amp

INDAH: Respek dan Kebersamaan (revisited)

saya ingin mengawali dengan memberikan lagu ini sebagai teman Anda membaca tulisan ini. Semoga berkenan :)


Indah (P. B. Adi) * dinyanyikan oleh Adoy dan Bonita

=======================

Setiap kali melihat objek yang indah, saya selalu merasa bahagia. Jika ditanya “kenapa saya jadi bahagia?” saya sulit menjawabnya secara singkat… ehmmm secara panjang lebar juga sulit. Jawaban ‘ndak mutu’ yang bisa saya beri adalah bahwa “ya memang begitu…”. Ketika saya merenungkannya kembali, “mengapa hal yang indah membuat saya bahagia”, saya sampai pada pemikiran yang bisa jadi benar:

“mungkinkah keindahan itu adalah kebahagiaan?”

Bukan pembahasan filsafat yang akan saya sampaikan di sini (namun teman-teman boleh membahasnya tentunya, juga memberi masukan), tapi lebih kepada perasaan yang timbul saat merasakannya. Sebagai seorang pemusik yang sering membuat musik/ lagu, ternyata patokan saya dalam menilai apakah karya saya ini saya anggap indah atau tidak adalah jika musik/ lagu yang saya buat bisa menimbulkan perasaan bahagia atau tidak dalam diri saya.

Perasaan bahagia yang saya rasakan itu seperti apa? Wah bukan main sulitnya juga menerangkan hal ini. Tapi satu yang sangat ‘kental’ saya rasakan adalah ada perasaan yang mirip dengan: lega, terpuaskan, enak, plus ada yang berlebih yang bisa ‘dikeluarkan’ misalnya: ingin menceritakannya ke orang lain, menangis haru, mengajak orang lain ingin mendengarkannya, bersemangat untuk mengerjakan hal lain, merayakannya, dan sejenisnya.

Kembali lagi kepada indah (yang mungkin = bahagia). Hal-hal yang menurut saya indah, ternyata tidak pernah hanya satu unsur saja. Di dalamnya pasti ada beberapa unsur. Lagu yang indah misalnya, terdiri atas banyak sekali unsur dan elemen di dalamnya: nada yang lebih dari satu, terjadi suksesi antar bunyi di dalamnya sehingga memakan waktu (durasi) tertentu, mungkin ada beragam warna bunyi di dalamnya, mungkin ada lirik di dalamnya, dan sebagainya (bisa merujuk ke kultwit tentang bunyi di blog ini). Belum lagi dibarengi dengan konteks/ suasana yang mengiringi saya saat menikmatinya. Makin bertambah lagi hal-hal yang bersama ‘membentuk’ keindahannya. Bahagia sekali bisa menikmati kesatuan unsur-unsur dan konteks tersebut sebagai sebuah pengalaman.

Baru-baru ini banyak ketidakbahagiaan yang kita alami di negeri ini. Dua peristiwa yang masih ‘panas’ terasa adalah kerusuhan (maafkan istilah saya ini mungkin kurang tepat) di Pandeglang dan Temanggung. Peristiwa ini sangat menyedihkan, saya benar-benar menangis sedih atasnya. Tidak hanya sedih, tapi juga bercampur takut, kecewa, tidak nyaman, dan terlukai. Jauh dari kebersamaan, kesatuan, keindahan.. jauh dari kebahagiaan.

Saya yakin, semuanya merasa dan ingin mencapai kebahagiaan. Di pihak yang satu, mereka merasa tidak bahagia jika yang di luar mereka begitu. Di pihak yang lain mereka merasa punya hak untuk menjalankan ‘hidupnya’ sesuai yang mereka yakini untuk bisa bahagia. Ada ucapan yang mengatakan “tidak pernah ada kebahagiaan untuk semuanya”. Ucapan ini juga sering dijadikan ‘olok-olok’ kepada para ajang kontes ‘perempuan-perempuan cantik’ entah itu Miss World atau Miss Universe yang selalu mengumandangkan perdamaian dunia.

“Semua orang berhak untuk bahagia” dianggap tidak pernah akan tercapai, karena dalam hidup bersama orang lain (salah satu kodrat manusia yang saya percayai), pasti ada saatnya kebahagiaan satu orang/ pihak/ golongan ‘bentrok’ dengan kebahagiaan yang lain, artinya pasti ada yang kebahagiaan yang dikorbankan, salah satu bentuk yang beradab adalah kompromi. Namun sayangnya banyak sekali praktik yang tidak beradab namun populer untuk mengatasi kondisi tersebut, misalnya penindasan, penghilangan, dan penyangkalan :(

Saya teringat pada kata-kata Bapak saya:

“kebahagiaan itu bukan tujuan hidup, Dik. Kebahagian itu adalah pilihan dan jalan hidup.. dan hidup itu panggilan. Nah terserah, kamu terpanggil dan mau memilih serta menjalaninya ndak…”

Sampai saat ini saya terus berusaha mencerna apa maksud dari ucapan Bapak. Sekarang ini saya jadi berpikir bahwa ketika kebahagiaan itu dijadikan tujuan, -melihat kejadian akhir-akhir ini- sangat mungkin banyak pihak akan saling bertengkar, atau satu pihak menindas pihak lain, untuk mencapainya, yang adalah hak dan tujuan hidupnya. Namun ketika kebahagiaan kita jadikan pilihan dan jalan hidup, maka kita selalu diberi kesempatan untuk mengatur/ mengendalikan kehendak agar hidup yang terus kita jalani ini dipenuhi dengan kebahagiaan. Jika pengalaman kita artikan sebuah keutuhan dari suksesi antar peristiwa/ kejadian, maka menjadikan kebahagiaan sebagai pilihan dan jalan hidup berarti membuat agar keutuhan pengalaman hidup kita ini tersusun atas suksesi-suksesi dari kejadian-kejadian yang membahagiakan.

Setelah saya pikir-pikir kembali, ucapan Bapak tidak hanya berlaku untuk ‘kebahagiaan’, namun juga untuk nilai-nilai yang lain. Kedamaian, kejujuran, kebersamaan, keindahan, tidak akan kita capai sebagai pengalaman yang utuh jika hal-hal itu hanya jadi tujuan tanpa kita menjalankannya. Sebuah kondisi damai yang dicapai melalui pertumpahan darah dan penindasan tidak akan langgeng bisa terjadi karena kondisi damai tersebut tersusun atas suksesi-suksesi dari kejadian-kejadian yang justru bertentangan dengan damai (mis. pembunuhan, penindasan, penyangkalan, dan sejenisnya); ada (atau banyak) pihak yang menyimpan kesengsaraan, kebencian, dendam, perasaan tidak adil. Dan bukan tidak mungkin perasaan-perasaan itu diturunkan kepada lingkungannya, bahkan ke generasi berikutnya. Rantai selanjutnya bisa Anda bayangkan sendiri.

Jika kebahagiaan itu bukan tujuan hidup tapi pilihan dan jalan hidup, bagaimana caranya? Menurut saya, langkah pertama adalah menyadari bahwa kita adalah orang yang bahagia. Saya yakin sekali bahwa pasti ada.. ya pasti.. hal baik yang ada di diri kita. Mulai dari kondisi badan, indera-indera kita, kebisaan, pengetahuan, dan banyak sekali. Lalu keluarga kita, teman-teman, kerabat, dan seterusnya. Selanjutnya saya yakin Anda sudah mengumpulkan banyak sekali hal dalam daftar kebahagiaan Anda. Dan usul saya, jangan di-tapi-kan. Misalnya, “indera penglihatan saya baik sih, tapi saya buta warna” atau “anak saya lucu banget tapi nakalnya…”. Simpan ‘tapi-tapi’ itu. Fokuslah pada hal baik yang Anda punya. Semoga kita semakin senang dan bahagia pada/ atas diri kita masing-masing.

Dan kalau kita simak lagi alinea di atas, berarti setiap orang juga punya hal-hal baik sebagai ‘modal’ kebahagiaan bukan? Pada titik ini saya merasa sudah tidak lagi logis secara matematika populer. Saya merasa bahwa kebahagiaan di bumi ini jumlahnya bukan 100%. Jika ada orang lain semakin bahagia artinya prosentase kebahagiaan untuk saya berkurang, saya tidak percaya itu. Untuk ‘benda’ lain yang lebih konkrit, uang misalnya, sangat mungkin hal tersebut terjadi, tapi tidak pada kebahagiaan. Kecuali bagi yang mengidentikkan kebahagiaan dengan uang. Dan saya yakin jika kita bisa bahagia bersama, dunia ini akan jauh lebih indah :)

Saya indah, kamu indah, semuanya indah… Bersama semua, dunia makin indah.

Anda tertarik menyatakan ini? Mari :’)

- petrus briyanto adi -

=================

* rekaman lagu di atas dibuat dalam rangka produksi album .. yo’ mari berdendang .. “peduli musik anak”, © 2009, CUPU Records sekaligus sebagai undangan pernikahan sahabat kami Mas Ibut dan Mbak Anyi bulan Maret 2009.

GOD Came to Me – part 4

“the more I know, the less I understand”

Sepetik lirik dari lagu “Heart of the Matter” karya Mike Campbell, Don Henley, dan John David Souther yang dinyanyikan oleh Don Henley ini sering terngiang di kepala saya ketika sedang berpikir tentang “saya ini ngapain ya?” “apa sih tujuan saya ini?”. Mungkin ini tandanya saya adalah ‘anggota’ dari orang jaman sekarang yang diberi gelar “generasi tak tau tujuan” :) mungkin…

Pertanyaan ini juga muncul ketika suatu malam saya ikut misa Jumat Agung tahun 2009 lalu. Apa yang di’rayakan’ pada malam itu membuat saya terus bertanya tentang “saya ini ngapain dan buat apa ya?”. Sepulang misa itu saya berdiskusi hangat dan seru dengan istri saya tentang hal tersebut. Diskusi tersebut (seperti biasanya saya berdiskusi) tidak perlu mendapatkan kesimpulan, tidak ada yang tersimpul, kami biarkan terbuka untuk selalu bisa diisi dengan pertanyaan-pertanyaan dan sanggahan-sanggahan lainnya di kemudian hari. Hal itu menguatkan saya untuk re’visit’ing sebuah pengalaman/ide yang dulu-dulu pernah saya alami/pikirkan. Bentuk ‘revisiting’ ide tersebut adalah ingin menjadikannya sebuah lagu. Mulailah upaya membuat melodi tema lagu dengan membubuhkan lirik tema ke dalamnya. Dengan lumayan seru dan susah payah (karena saya mengganggap diri saya bukan penulis lirik yang baik) jadilah lirik dan lagu “GOD Came to Me” ini.

Saya sudah menuliskan dua notes sebelumnya tentang lagu ini. Dan pada note ini saya sertakan link dari rekaman lagu ini yang ditampilkan oleh BONITA & the hus BAND.

Saya senang sekali dengan versi ini. Bonita, Bharata Eli Gulo, dan Jimmy Tobing serta Agus Leonardi dengan baik sekali bisa membantu saya untuk menyampaikan hawa lagu ini dengan indah dan sederhana. Terimakasih banyak temans :’)

Silakan menikmati lagu ini, semoga teman-teman semua berkenan dan bisa ikut menikmatinya seperti juga kami menikmati lagu ini.

Terimakasih banyak,…… with LOVE :’)

- petrus briyanto adi -

silakan klik judul lagu di bawah ini untuk mendengarkan:


GOD Came to Me

music & lyrics: Petrus Briyanto Adi
performed by: BONITA & the hus BAND

Bonita: vocals
Petrus Briyanto Adi: guitars, upright bass, didgeridoo, vocals
Bharata Eli Gulo: doumbek, cymbal, chimes, shaker, vocals
Jimmy Tobing: soprano saxophones

recorded, mixed, and mastered by Agus Leonardi

recorded at rumah AdoyBoniPram

======================================================================

GOD Came to Me

God came to me
“it’s good to meet you”, He said with His simple smile
such a familiar face that you won’t forget nor you’ll remember

I told Him
“It feels so real but to surreal..
is it the alpha state that I just entered..?
but it didn’t happen in the other sessions”

“oh why… why tonight? I don’t know what I should do…
You came to me… it’s You..”
“Oh you.. mercy mercy me…
I still don’t know what to do…”
God came to me… with love

God told me
“I bet you feel special that I came to meet you…
greet you and having all this conversation…
but it’s not that special actually, my child…”

I told Him
“it feels surreal than it must be special…
how can it isn’t special that You came to meet the ordinary people..”

“Oh my… my child..” She said
“nothing’s special with Me coming to you…
I’m always here… with you…”
“But still… it’s kinda special…because you’re aware that I am here…”
God looked at me with love

“I should tell this story to all my friends”

“Don’t bother doing it, my child..
‘Cause they won’t believe you…
but if you choose to do it anyway…
just tell them that it’s only your imagination”

“Oh my… my child..” She said
“nothing’s special with Me coming to you…
I’m always here… with you…”
“But you… you’re special…
cause you’re aware that I am here…”
God looked at me with love

God came to me with love…

PS: note lain tentang lagu ini juga ada di link berikut ini:

http://www.rumahbonita.com/2010/06/godcametome-3/

‘Dangdutan’-based guitar style

Keingintahuan dan kemudian ketertarikan pada musik tradisi Indonesia ternyata memberikan pengalaman yang begitu dalam dan berharga bagi kehidupan saya bermusik. Menurut kakak saya, sewaktu kecil (hingga saya berusia dua tahun) bangunan di dekat rumah keluarga kami sering digunakan sebagai tempat berlatih gamelan. Mungkin ‘pengkondisian’ lingkungan itu juga yang membuat saya sampai saat ini merasa punya ketertarikan terhadap musik tradisi Indonesia umumnya dan Jawa khususnya.

Suatu pengalaman menarik terjadi pada tahun 1993. Saat itu tetangga kami yang bernama ibu Melani Budianta memberikan dua kaset rekaman audio kepada saya, keduanya adalah “Gandrung Banyuwangi” dan “Gambang Kromong” produksi Smithsonian/ Folkways Music of Indonesia. Sebagai orang yang jarang mendengarkan rekaman audio, saat itu saya antusias sekali. Kaset itu menjadi ‘teman’ saya selama saya kos di Depok. Beberapa hal yang menarik terjadi saat saya mendengarkan rekaman tersebut: saya tidak paham bahasa yang digunakan dalam beberapa lirik lagu-lagunya namun saya merasa ‘mengerti’ sesuatu; secara harafiah saya merasakan birahi yang begitu ‘sexy’ saat mendengarkan Gandrung Banyuwangi; beberapa kali daerah rongga perut saya terasa bergejolak namun nyaman ketika mendengarkan musik di kedua kaset tersebut; secara spontan menari-nari sambil memejamkan mata sambil merasakan ada sesuatu di dalam badan saya yang menggelinjang.

“Bukan main”, pikir saya atas beberapa reaksi saya saat mendengarkan musik tersebut. Saya kemudian memutuskan untuk berusaha sebisa mungkin membuat musik yang dapat memberikan perasaan nikmat ini, setidaknya untuk diri saya sendiri. “Apa yang akan saya pelajari untuk bisa melakukan niat saya ini?”, tanya saya dalam hati untuk mencari ‘modal’ agar bisa membuat musik seperti itu. Ibu saya memberi informasi bahwa ayah pembantu kami yang bernama pak Sayat (sekarang beliau sudah tiada) adalah seorang pemimpin karawitan Sunda di kampungnya yang terletak di kaki gunung Salak. Saya langsung teringat pada tari Jaipongan yang populer di pertengahan tahun 80an. Mendengarkan tetabuhan pengiring tari Jaipongan ternyata juga memberikan sensasi yang kurang lebih sama dengan sensasi yang saya rasakan ketika mendengarkan “Gandrung Banyuwangi” dan “Gambang Kromong”. Saya lalu memutuskan untuk ingin belajar musik tradisi pada pak Sayat.

Saya mengajak teman sekolah dan teman musik saya ketika itu –Willem Jefta Kastanya– untuk belajar karawitan Sunda, khususnya kendang Sunda (karena kami berdua punya ketertarikan pada instrumen perkusi) kepada pak Sayat. Singkat kata kami menyempatkan beberapa kali datang ke kediaman pak Sayat selama dua minggu untuk belajar musik. Menyenangkan, itu sudah pasti. Lebih dari itu, pengalaman belajar dari pak Sayat sungguh amat berharga bagi kami (setidaknya saya) bahkan hingga hari ini. Pengalaman tersebut memberi inspirasi bagi saya untuk semakin tekun belajar gitar (secara otodidak). Pikiran terasa penuh namun tak sesak dengan ide-ide rasa yang ‘meminta dengan sangat’ untuk direalisasikan dalam bebunyian. Pada masa itu, gitar adalah instrumen utama yang saya tekuni. Tak ayal lagi gitarlah yang menjadi tumpahan ide-ide dan semangat hasil belajar musik dari pak Sayat.

Hampir tiga bulan setelah ‘berguru’ pada pak Sayat saya ‘bergaul’ intim dengan gitar nylon saya: mencoba berbagai macam kemungkinan bagi kami berdua (saya dan gitar) untuk bisa merealisasikan ide bebunyian yang ‘berkecamuk dengan bahagianya’ di pikiran dan perasaan saya. Sampai tiba pada suatu saat di mana saya berpikir untuk ‘menterjemahkan’ pola bermain kendang ke pola petikan gitar. Satu pola permainan kendang yang sangat saya sukai dan sangat ‘menempel’ di ingatan saya adalah pola “dangdutan”. *Pola ‘dangdutan’ pada kendang Sunda ini dapat teman-teman dengar di lagu Cozy Street Corner berjudul “Delman” (potongan lagu tersebut saya sertakan di tulisan ini)*


Delman
(musik & lirik: P. B. Adi/ C. B. Takarbessy/ B. Priambodo/ W. J. Kastanya)
© 2002, Cupu Songs Copyright, all rights reserved


Sebelumnya saya akan menerangkan sedikit tentang kendang Sunda berdasarkan apa yang saya dapat dari pak Sayat. 1 set kendang Sunda terdiri atas tiga buah kendang/drums: satu berukuran paling besar dan dua lagi ukurannya kecil-kecil. Kendang-kendang tersebut tertutup membran kulit di setiap ujungnya. Kendang yang besar bernama “Indung” atau “Ibu” dan dua yang kecil-kecil adalah “Anakan”. Sebagaimana hubungan Ibu dan Anak, ‘tugas’ Indung adalah meng’emong’ anak-anaknya. Umumnya pemain kendang berada dalam posisi duduk di lantai (hampir seperti bersila) dengan Indung berada pada posisi miring (membran kecil agak di atas dan membran besar di bawah) dan kedua Anakan berdiri di dekat kedua membran Indung.

Dengan posisi ini, membran yang bisa dimainkan (dipukul) berjumlah empat buah. Saya membunyikan dengan mulut untuk keempat membran itu sebagai:

  • DEM < indung bawah
  • TUNG < indung atas
  • PAK < anakan dekat dengan TUNG
  • DUNG < anakan dekat DEM

Kembali ke “menterjemahkan pola dangdutan kendang ke permainan gitar”, saya memainkan TUNG dan PAK sebagai petikan jari telunjuk (TUNG) dan jari tengah&manis bersamaan (PAK). Sedangkan DEM saya mainkan sebagai petikan jempol untuk senar bass dan DUNG juga dengan jempol untuk nada bass lain (yang lebih tinggi dari DEM). Butuh hampir seminggu bagi saya waktu itu untuk dapat memainkan pola “dangdutan” di gitar dengan lancar. Beberapa kesulitan terjadi terutama saat di mana keempat jari kanan saya harus berbunyi bersama atau bergantian. Saya harus (seperti) memerintahkan keempat jari saya tersebut untuk secara bersamaan mandiri sekaligus saling tergantung satu dengan yang lain. Yeeehaaww….!!! Mengingat-ingat saat itu saja sudah merupakan suatu hal yang seru bagi saya :)

Dan puji syukur kepada Tuhan bahwa dengan bisa memainkan pola tersebut di gitar, saya bisa mendapatkan perasaan senang, puas, dan tidak lupa: sensasi-sensasi yang saya inginkan dari rangkaian bunyi tersebut bisa saya rasakan. Bagi saya pribadi, hal tersebut merupakan bukti bahwa “music is it’s own reward”.

Dalam tulisan ini saya sertakan video “guitar tutorial part 1 – ‘dangdutan’-based guitar style” yang saya buat untuk berbagi sedikit keterampilan dan pengetahuan tentang salah satu teknik bermain gitar ini. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman semua, khususnya yang berminat pada gitar dan cukup mengenal/ bisa memetik gitar.

Secara khusus, tulisan dan video ini saya persembahkan sebagai penghargaan kepada alm. Bpk. Sayat yang telah memberikan pengalaman, keterampilan, pengetahuan, dan bekal yang begitu berharga bagi saya hingga kini.

Terimakasih banyak. Salam hangat,

- Petrus Briyanto Adi -

KREDIT:

potongan lagu yang dimainkan di akhir video ini adalah:
“Bengawan Solo” ciptaan Gesang

kamera video milik Bharata Eli Gulo
video diambil oleh Agus Leonardi
penata dan peramu rekaman: Agus Leonardi
video diedit oleh Petrus Briyanto Adi

rekaman dilakukan di rumah AdoyBonitaPram di Cinere

P. B. Adi menggunakan:
CORT CEC 5 NAT, acoustic nylon guitar
Fishman AURA Acoustic Imaging Pedal – NYLON
Behringer MIC 100 tube pre-amp

Terimakasih Guru :’)

 

Baru tahun 2002 saya ingat bahwa ketika kecil -tepatnya kelas 1SD- saya punya cita-cita menjadi guru. Wali kelas saya saat tahun 1981 itu cantik sekali, baik hati, dan tulisan tangannya indah sekali. Namanya ibu Yuliana Sutiyem. Kualitas-kualitas baik yang dipunyainya itulah yang membuat saya ingin menjadi seperti dia. Beruntung pada tahun 2006 lalu saya bisa bertemu dan menyampaikan terimakasih secara langsung padanya. Sekarang saya menjadi guru, walau tidak cantik seperti bu Yuli (karena saya ganteng) dan tulisan tangan saya tidak sebaik dia (tulisan tangan saya jelek bukan main)… :)

GN-Mei24-06Apa yang membuat saya teringat akan cita-cita saat kecil itu? Tahun 2002 adalah saat saya pertama kali mengajar dalam kelas. Murid-murid saya waktu itu umurnya 2-4 tahun. Tidak mudah mengajar mereka. Butuh banyak sekali pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan tugas pengajaran. Selain pengetahuan tentang materi ajar, juga dibutuhkan keterampilan untuk menyampaikan dan menampilkannya. Kalau pun tiga hal itu sudah bisa dilakukan, masih lagi dibutuhkan segudang keterampilan yang lain, beberapa di antaranya: sehat, sabar, senang, lincah dan cekatan, peka thd kondisi fisik dan psikis di luar diri, perencanaan, ketelitian, fleksibilitas, authenticity, tegas, kritis, empatik, melayani, dan banyak lagi.. Hmmm, kalau kita perhatikan, kualitas-kualitas tersebut ternyata memang kita perlukan, apa pun pekerjaan kita.

Jadi apa bedanya guru dan pekerjaan-pekerjaan lain? Menurut saya bedanya: gurulah yang membuat kita belajar kualitas-kualitas baik tersebut. Enterpreneur sukses seperti Muhammad Yunus dan Untung Santosa pasti belajar kemampuan dan keterampilannya itu dari gurunya masing-masing. Siapa guru mereka? Saya yakin sekali banyak: orang lain, tempat, buku, kurun waktu tertentu, etc. Singkat kata pengalamanlah guru mereka (kita). Dan karena sebagian besar pengalaman kita pasti menyertakan orang lain, saya jadi berpikir bahwa kita adalah guru bagi orang lain, kita saling menjadi guru satu sama lain.

Terlalu jauh/ komplekskah pemikiran ini? Saya sih merasa justru hal ini sangatlah sederhana, membumi, dan alamiah. Betapa pengetahuan, keterampilan, atau pandangan kita bisa berubah (menguat atau melemah) hanya dari mengobrol dengan teman, saudara, atau orang baru. Kita bisa sadar ‘hanya’ dengan melihat kejadian yang dialami orang lain; kita bisa terinspirasi ‘hanya’ dari menikmati musik atau membaca buku; dan sebagainya.

Alangkah indahnya ketika kita sadar bahwa -mau tidak mau, sadar atau tidak, langsung atau dengan perantara- kita semua adalah guru bagi yang lain. Keindahan ini bukan mustahil terjadi. Saya dengan sadar memilih untuk tetap dan terus yakin dan memimpikannya dengan bahagia :)

Berkaitan dengan World Teacher’s Day di tanggal 5 Oktober kemarin, saya memilih untuk melihatnya sebagai hari dimana secara sederhana kita senang dan bersyukur telah mempunyai guru dan menjadi guru bagi orang-orang lain. Selamat, saudara-saudaraku!!! :’)

GN-April19-05

PS:

Sebagai ‘hadiah’ di hari istimewa ini saya sertakan audio sampel lagu ‘Trimakasih Guruku‘ yang saya tulis tahun 2007. Rekaman ini dibuat tahun 2008 dinyanyikan oleh Bonita dalam rangka kampanye ‘Peduli Musik Anak’ yang dikemas dalam album “yo, mari berdendang” sekaligus menjadi souvenir perkawinan teman kami mas Ribut Cahyono dan mbak Karina Adistiana 7-8 Maret 2009 yang lalu. Mariii… :)

 

Terimakasih Guruku
(musik & lirik: P. B. Adi)
© 2009, Tala Lestari, all rights reserved


 

foto diambil pada tahun 2005 dan 2006, murid-murid angkatan pertama TK Gita Niti dengan guru mereka Kak Nunu.

Pesan untuk Pram

==============================================================
“Dek, masa depan itu pasti persis seperti yang kamu bayangkan”.
Bapakku pernah berkata demikian pada suatu percakapan saya dengannya. “karena yang adalah saat ini…”, begitu penjelasan
Bapak. Sampai hari ini saya masih terus belajar dan menghayati ucapan beliau tersebut. Bapak juga menambahkan bahwa
membayangkan masa depan adalah upaya awal ‘materialisasi’ dari mimpi… Wuiiihhh… Saya tidak bisa menjelaskan dengan
logis-verbal tapi saya percaya dan yakin akan hal itu.
==============================================================
Saya setuju sekali bahwa yang ada memang saat ini. Masa lalu itu entah kemana… Masa lalu hubungannya dengan fungsi ingatan,
diingat atau dilupakan. Masa kini untuk dijalani dan masa depan untuk diciptakan. Kurang lebih itulah yang bisa saya cerna
sampai hari ini dari ‘wejangan’ Bapak kepada saya.
Pada kesempatan-kesempatan yang lain, Bapak juga sering mengatakan bahwa dia hanyalah duan tua yang sudah akan jatuh dan
tugasnya adalah untuk menyuburkan tanah. Pada saat-saat awal Bapak mengatakan hal tersebut, saya sering sedih, tapi makin
kesini bukan lagi sedih tapi bangga dan hormat kepada beliau khususnya dan kepada para orangtua umumnya. Saya jadi berpikir
bahwa masa depan memang lah milik generasi yang akan datang. Terimakasih untuk orangtua kita semua dan generasi-generasi
sebelum kita yang telah membekali dan memberikan hidup untuk kita sekarang ini.
Lagu berikut ini adalah salah satu upaya saya untuk mendokumentasikan pelajaran-pelajaran dari apa yang disampaikan oleh
Bapak kepada saya. Semoga teman-teman berkenan dan bisa dinikmati bersama :)
Pesan untuk Pram
(musik dan lirik: P. B. Adi)
kau lukis indah
hidupmu yang sedang kaujalani
ku bahagia
kau pilih langkah dan cara
kau beri bunga
kau bahagia
kuberdoa
ingat hari lalu
hidup hari ini
cipta masa nanti
pasti ‘kan bahagia
esok bukanlah milikku
hanya harapan
kau bahagia
ingat hari lalu
hidup hari ini
cipta masa nanti
smoga kau bahagia
Bonita yang mengusulkan lagu ini diberi judul “pesan untuk Pram”, karena kami merasa perlu untuk meneruskan pesan ini
padanya. Terimakasih Ibunaaaa…. :) juga Ananaaa tentunya :)
- petrus briyanto adi -

“Dek, masa depan itu pasti persis seperti yang kamu bayangkan”.

Bapakku pernah berkata demikian pada suatu percakapan saya dengannya. “karena yang adalah saat ini…”, begitu penjelasan Bapak. Sampai hari ini saya masih terus belajar dan menghayati ucapan beliau tersebut. Bapak juga menambahkan bahwa membayangkan masa depan adalah upaya awal ‘materialisasi’ dari mimpi… Wuiiihhh… Saya tidak bisa menjelaskan dengan logis-verbal tapi saya percaya dan yakin akan hal itu.

Saya setuju sekali bahwa yang ada memang saat ini. Masa lalu itu entah kemana… Masa lalu hubungannya dengan fungsi ingatan, diingat atau dilupakan. Masa kini untuk dijalani sedangkan  masa depan untuk diciptakan. Kurang lebih itulah yang bisa saya cerna sampai hari ini dari ‘wejangan’ tersebut.

Pada kesempatan-kesempatan yang lain, Bapak juga sering mengatakan bahwa dia hanyalah daun tua yang sudah akan jatuh dan tugasnya adalah untuk menyuburkan tanah. Pada saat-saat awal Bapak mengatakan hal tersebut, saya sering sedih, tapi makin kesini bukan lagi sedih tapi bersyukur, bangga, dan hormat kepada beliau khususnya dan kepada para orangtua umumnya. Saya jadi berpikir bahwa masa depan memang lah milik generasi yang akan datang. Terimakasih untuk orangtua kita semua dan generasi-generasi sebelum kita yang telah membekali dan memberikan hidup untuk kita sekarang ini.

Lagu berikut ini adalah salah satu upaya saya untuk mendokumentasikan pelajaran-pelajaran dari apa yang disampaikan oleh Bapak kepada saya. Semoga teman-teman berkenan dan bisa dinikmati bersama :)

Pesan untuk Pram

(musik dan lirik: P. B. Adi)
© 2009, Tala Lestari, all rights reserved


saat kami liburan di Cipanas, di tempat keluarganya Christian Takarbessy. Ini lagi di Taman Bunga Cipanas. Liburan yang asyiiiiikkkkkk.... :)

saat kami liburan di Cipanas, di tempat keluarganya Christian Takarbessy. Ini lagi di Taman Bunga Cipanas. Liburan yang asyiiiiikkkkkk.... :)

kau lukis indah
hidupmu yang sedang kaujalani
ku bahagia

kau pilih langkah dan cara
kau beri bunga
kau bahagia
kuberdoa

ingat hari lalu
hidup hari ini
cipta masa nanti
pasti ‘kan bahagia

esok bukanlah milikku
hanya harapan
kau bahagia
kuberdoa 

ingat hari lalu
hidup hari ini
cipta masa nanti
s’moga kau bahagia

Bonita yang mengusulkan lagu ini diberi judul “pesan untuk Pram”, karena kami merasa perlu untuk meneruskan pesan ini padanya. Terimakasih Ibunaaaa…. :) juga Ananaaa tentunya :)

- petrus briyanto adi -

Tidurlah ‘Nak

========================================================================================

Suatu waktu di tahun 2003 ketika saya masih mengajar musik untuk anak usia 2-4 tahun di Taman Bermain Musikal Gita Niti, saya membuat musik instrumental untuk mengiringi kegiatan anak-anak untuk SUNYI.

Kegiatan SUNYI itu apa ya? Kegiatan sunyi adalah kegiatan yang dirancang untuk anak-anak agar mereka tenang, mencari posisi badan yang paling nyaman untuk diam selama beberapa saat. Tidak membuat suara, tidak bergerak-gerak, gerakan yang dibolehkan hanyalah mata berkedip dan bernafas.

Apa yang dituju dari kegiatan ini? Kegiatan ini dibuat untuk melatih anak menghayati apa itu diam. Diam adalah prasyarat bagi adanya bunyi. Walau bunyi berarti tidak diam, namun sebenarnyalah diam adalah wadah dari bunyi. Dalam interpretasi yang mudah, kita akan sulit menikmati bunyi-bunyian yang indah jika kita tidak menyimaknya, dengan tertib, dengan diam, dengan perhatian. Nah kegiatan SUNYI ini dirancang untuk memberikan pengalaman tersebut kepada anak-anak, belajar untuk tenang. Hal lain yang biasanya saya sertakan untuk sampaikan kepada anak-anak dalam kegiatan ini adalah “sambil tenang dan diam, pikirkanlah hal baik yang ada pada diri kalian masing-masing. Bayangkan bahwa hal baik itu terasa dalam setiap nafasmu. Dan hal baik itu terpancar keluar dari badanmu”. Tujuan saya menyertakan hal ini dalam kegiatan SUNYI adalah supaya anak-anak tahu dan sadar bahwa dirinya adalah baik, dan bahwa hal baik itu sifatnya menentramkan dan enak untuk dinikmati.

========================================================================================

Baik, itu tadi sekilas cerita tentang setting saya menulis ‘bakal’ lagu “Tidurlah ‘Nak”. Semakin sering saya memainkan lagu instrumental tersebut, saya makin merasa bahwa musik tersebut bernafaskan nina bobo/ lullaby. Saya beranikan untuk membuat lirik satu bait untuk lagu ini: “Tidurlah ‘Nak, senja t’lah tiada, tidurlah lelap dalam pelukan kala. Tidurlah ‘Nak, jelang mimpi indah, tidurlah tidur… tidurlah”.

Singkat cerita, pada saat saya dan Bonita menanti kelahiran Pram pada (kira-kira) trimester kedua, saya mengajak Bonita untuk belajar menyanyikan lagu ini. Saya bahagia sekali karena ia dengan senang mau menyanyikan lagu ini. Bukan hanya itu saja, Bonita juga ingin membuat lirik sebagai bait kedua lagu ini. Jadilah bait kedua lagu ini yang ditulis oleh Bonita “Tidurlah ‘Nak, lelap dalam timang. T’usah kau resah engkau akan kujaga. Tidurlah ‘Nak, esok pasti tiba. Tidurlah tidur… tidurlah”.

bdg-10Singkat cerita lagi, semalam kami memutuskan untuk merekam lagu ini. Proses rekaman seperti biasa berjalan seru, Agus Leonardi merekam lagu ini dengan baik. Asik!! :) Tengkyu ya, Om Bhotax!!!

Saya sering membayangkan, apa perasaan orang yang pertama kali mendengarkan nyanyian ya? Pasti merupakan suatu pengalaman yang indah dan sangat berkesan. Hingga sekarang saya berpikir bahwa orang yang pertama kali mendengarkan nyanyian adalah bayi yang dininabobokan oleh sang Ibu. Dan saya yakin sekali bahwa itu adalah benar suatu pengalaman yang indah dan sangat berkesan…

Secara personal dan khususnya, lagu ini saya persembahkan untuk para Ibu… Penyanyi paling hebat yang dipunyai oleh setiap anak di bumi ini. Ibu-ibu, menyanyilah untuk anak Anda. Seberapa pun baik atau tidak suara Anda menurut Anda masing-masing, saya yakin bagi anak-anak Anda nyanyianmu sungguhlah indah, karena dinyanyikan untuk mereka dengan cinta yang amat dalam.

Selamat mendengarkan, menikmati, dan bernyanyi… :) Mariiii……

 

- petrus briyanto adi -

 

Tidurlah ‘Nak
(music: P. B. Adi; lyrics: P. B. Adi & Bonita)
performed by Bonita & Adoy
© 2009, Tala Lestari, all rights reserved