5 ROTI DAN 2 IKAN

Featured

Waktu kecil, saya memberi nilai meriah, sukacita, dan seru pada mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang hanya dengan ‘bermodalkan’ 5 roti dan 2 ikan (sisanya tercatat ada 12 bakul). Mengingat lagi cerita itu sekarang, pada masa PilPres RI 2014, saya jadi bertanya, apakah itu real count? ataukah quick count? siapa yang kredibel menghitung jumlah-jumlah itu pada saat itu? dan sebagainya.

Saya sendiri tidak yakin dengan hitung-hitungan tersebut. Pada kebenaran teks mukjizat itu pun, saya tidak sepenuhnya percaya. Apakah saya seorang yang murtad dari ajaran Kristus? saya rasa bukan wilayah saya untuk menghakimi diri saya sendiri. Tapi salah satu ‘tafsir’ yang selalu menyegarkan untuk saya pegang dan hidupi adalah semangat sederhana, saling membantu, dan berbagi untuk kebaikan.

Begini.. ada yang melihat (saya senang sekali melihatnya demikian) mukjizat 5 roti dan 2 ikan itu sebagai kejadian sederhana sekaligus istimewa. Ada 5000 orang mengikuti Yesus, mau mendengarkan khotbahnya. Yesus merasa prihatin pada mereka.. “kasihan mereka udah jauh-jauh berkumpul, mau mendengarkan saya, masak gak ‘dijamu’ apa-apa?” begitu lah mungkin ‘kasar’nya menurut tafsir saya. Sedangkan bekal yang dibawa oleh murid-murid Yesus dan kerabat dekatnya cuma 5 roti dan 2 ikan. Maka diberkatilah ketujuh item tersebut oleh Yesus lalu dengan semangat berbagi dari apa yang dipunya, dibagikanlah 5 roti dan 2 ikan tersebut. Ternyata semangat kesederhanaan, berbagi, dan kasih itu menginspirasi semua hadirin. Hal itu menjadi teladan bagi mereka: masing-masing dari mereka yang membawa bekal mengurunkan bekal mereka untuk bisa dibagi-bagi bersama. Menular, satu ke dua, dua ke lima, lima ke dua puluh, dua puluh ke seratus, seluruh hadirin berpartisipasi: mengurunkan bekalnya, mendistribusikannya kepada yang membutuhkan, mengatur pembagian, dan sebagainya, bahkan akhirnya ada sisa yang sangat berkelimpahan yaitu 12 bakul penuh.

‘Mukjizat’ ini bukan sulap ataupun sihir. Ini adalah keajaiban yang selalu ada dalam kehidupan kita sehari-hari, yang (menurut saya sih) saklar penghidupnya adalah sederhana dan niat baik. Dengan kesederhanaan, kita dapat menimbang dengan pas apa yang kita butuhkan, berapa banyak, bagaimana kita mencukupinya. Kesederhanaan dan niat baik juga memungkinkan kita melihat bagaimana dengan yang lain? Bagaimana kebutuhan yang lain? berapa banyak? apa yang bisa dibantu agar orang lain juga dapat tercukupi kebutuhannya? Kesederhanaan dan niat baik juga mendorong kita untuk berkorban, aktif membantu yang lain yang membutuhkan walaupun kita belum kenyang-kenyang amat. Komunis? Ah, kau saja lah yang beri nama itu. Hampir tiap minggu saya terima komuni suci, bisa jadi saya adalah komunis suci. Anyway…

Saya terharu dan bangga, di tengah hiruk-pikuk dan keruhnya pilpres kita sekarang dengan fitnah-fitnah, kecurangan, gegontokan, juga berita-berita miring atau bengkok, kita masih bisa berkumpul bersama. Beberapa orang membuat inisiatif dan bekerja mengawal suara pilpres dan kinerja KPU. Sampai dijadikan rujukan untuk KPU dalam menjalankan tugasnya. Jauh dari hiruk-pikuk, terbenam di depan monitor desktop atau gadget masing2, tabel excel, kertas tabulasi, sampai-sampai pandangan mata pudar jika melihat jauh, hingga pinggang pegal-pegal, jalan-jalan bukannya ke tempat rekreasi tapi kok malah ke kelurahan2, kecamatan2: dengan sederhana dan niat baik mengawal KPU menjalankan tugasnya dan mengamankan suara kita (apapun coblosannya) agar jujur dan adil diperhitungkan. Tindakan-tindakan sederhana itu menular, menginspirasi banyak orang juga untuk melakukannya bersama-sama, untuk hidup kita yang lebih baik nantinya, dimulai dari kejujuran dan keadilan. Sedih sebenarnya, pekerjaan ‘membosankan’ ini jadi perlu dilakukan karena memang ternyata ada (kalau tidak bisa dibilang banyak) kecurangan-kecurangan yang terjadi yang tampak tidak bisa dikontrol oleh pemerintah.

Menengok sebentar ke beberapa minggu lalu, kita juga bisa melihat partisipasi sederhana dan (oleh karenanya) bermutu dari kita sendiri untuk pilpres kita. *tidak perlu saya sebutkan siapa calonnya, atau siapa yang tidak bermutu lah ya*. Sukacita, nyaman, adem, guyub, mandiri, bertanggung jawab, dan bermartabat. Pun demikian, masih ada saja yang bertanya: “loe bikin lagu dan video itu dibayar berapa sama timses?”. Jawabnya aja sampai bingung karena takjub sama pertanyaannya “????”.

Fitnah, kecurangan memang bisa menular. Tapi saya percaya (sudah banyak buktinya, sederhana) niat baik, kesederhanaan, kejujuran, dan sukacita lebih alamiah dan oleh karenanya pasti lebih kuat serta lestari.

Terimakasih yang tulus untuk teman-teman yang sudah rela mengorbankan waktunya untuk memulai dan menjalankan inisiatif-inisiatifnya untuk Indonesia yang sederhana, bermartabat, cerdas, jujur, dan sehat (lahir batin) khususnya di masa-masa penting ini. Salut, haru, bangga, dan bahagia dari kami sekeluarga dan teman-teman yang mungkin tidak mengenal kalian satu per satu. Kalian juga lah alasan kami bangga pada bangsa KITA, bangsa Indonesia. Terimakasih atas teladan yang sudah kau tunjukkan.

Salam2Jari (teuteup) 😊✌️

Petrus Briyanto Adi sekeluarga.

Musik: teks dan konteks – (Pram menyanyikan penggalan lagu “Bangun Pagi”*)

Musik sangat kaya akan nilai. Salah satu cara pandang yang mudah dan umum adalah melihatnya dari dua nilai besar yaitu: nilai intrinsik dan ekstrinsik. Nilai intrinsik musik adalah nilai yang secara mandiri sudah ada pada musik itu sendiri: bunyi-bunyian yang ada di dalamnya, tata dan strukturnya, dan sejenisnya; sedangkan nilai ekstrinsik adalah hal-hal ‘di luar’ musik yang kita ‘assign’ kepada musik, misalnya: pemilihan lirik untuk tujuan tertentu dari sebuah lagu, pengaruh kebiasaan/ tradisi/ budaya dalam memaknai sebuah karya musik, dan sejenisnya. Pemahaman atas kedua nilai ini sangat bisa menimbulkan perdebatan, bahkan [dapat] memunculkan dua kubu pemahaman tentang musik: intrinsik vs ekstrinsik. Beberapa pendidik musik melihatnya sebagai wacana tentang: teks [intrinsik] dan konteks [ekstrinsik].

Tulisan ini tidak akan membicarakan hal ‘rumit’ di atas. Saya hanya mau berbagi cerita tentang suatu hal sederhana yang ada kaitannya dengan “teks dan konteks” yang terjadi pada anak kami saat menyanyikan sebuah lagu anak-anak yang berjudul “Bangun Pagi”.

Pramusetya Kanca [nama panggilan Pram, anak kami, sekarang berusia 5 tahun 1 bulan, sekolah TK A di Charitas – Pondok Labu] senang bernyanyi. Ia dapat menyanyikan ulang kalimat/ frase melodi sederhana yang dia dengar sesuai dengan pitch dan teksturnya. Dia juga ‘taat’ dengan ritme musik/ lagu. Pram juga suka berhitung, seperti banyak anak lainnya, hitungan yang ia lakukan per sepuluhan: dari satu hingga sepuluh, kemudian sampai dua puluh, dan hari Sabtu lalu sambil membaca tabel angka Pram bisa menghitung sampai tiga puluh sembilan 🙂

Pada hari-hari awal sekolahnya, Pram banyak belajar lagu yang baru baginya, salah satunya adalah lagu “Bangun Pagi”. Saya menduga banyak dari Anda mengenal lagu “Bangun Pagi” ini. Lirik, notasi, dan audionya adalah sebagai berikut:

bangun pagi

Suatu hari sepulang sekolah, dalam perjalanan Pram bernyanyi lagu tersebut namun hanya bait pertama saja dan itu pun tidak sesuai dengan yang diajarkan. Ia menyanyikannya demikian:


Ibunya berusaha meralat lagu yang dinyanyikan, namun Pram tidak setuju dan merasa hitungan harus sampai angka sepuluh 🙂

Secara “teks” kalimat/ frase untuk bait pertama lagu ini sudah terpenggal, terjeda. Namun ternyata bagi Pram secara “konteks” belum lah usai, karena menurutnya jika ingin memenggal hitungan adalah per sepuluhan. Untuk mengatasi masalah tersebut dia membuat melodi sendiri untuk mengusaikan [cadens] hitungan dengan lirik “sembilan sepuluh”. Bentuknya pun unik, seperti sebuah coda dari sebuah lagu. Seringkali ia menyanyikan bagian “sembilan sepuluh” dengan perlambatan sehingga lebih terasa sebagai sebuah akhir kalimat.

bangun pagi - prams version

Saya jadi melihat-lihat lagi pengalaman saya ketika membuat lagu atau lagu-lagu lain yang sudah tercipta, bagaimana si pembuat lagu/ musik membuat bagian-bagiannya, menatanya, memulainya, dan mengakhirinya; jika sebuah lagu diberi lirik, pertimbangan apa sajakah yang perlu diambil, bagaimana penyelesaiannya jika pada suatu alur ada yang dirasa kurang sesuai, etc.

Saya yakin banyak hal-hal menarik/ unik/ lucu yang terjadi pada anak-anak Anda dalam perkembangan [musikal] nya. Dan bisa jadi kelucuan-kelucuan itu adalah contoh dari ‘masalah’ musikal yang seringkali dihadapi pemusik dalam karya-karyanya.

Mari semakin kayakan musik kita dengan ‘teks’ dan ‘konteks’. Selamat bermusik dengan anak-anak Anda 🙂

– p. b. adi –

* = saya tidak tahu siapa pencipta lagu ini dan apakah benar ini judulnya. Untuk kepentingan pemahaman informasi, saya sertakan notasi yang saya buat sendiri dari ingatan saya atas lagu ini dan juga file audionya.

Impera PBA Signature Fretless Bass

Impera PBA Signature Fretless Bass – 5 strings
by Impera Guitar Co. luthier: Raka Shiddiq

===================================

5 piece indonesian rosewood – mahogany neck
mahogany body wing
flame maple top & back cover
macassar ebony fingerboard
hipshot a-style brass bridge
hipshot ultralite tuners
emg 45 csx pickup
emg bqc system preamp

photographer: Adrian Yyen

 

music/ compositions:

“some basslines” (P. B. Adi) © 2012, petrus briyanto adi | “summertime” (G. Gershwin) | “orientation #2” (P. B. Adi) © 2012, petrus briyanto adi

===================================

audio tracks in this photo profile were recorded with Impera PBA Signature Fretless Bass. Recorded with Genz-Benz Shuttle 6.0 – PresSonus AudioBox USB – Logic Pro 8.

indera kinestetik dalam latihan musik

Selain dengar, lihat, hidu [penciuman bau], kecap, dan raba, kita juga memiliki indera kinestetik. Apakah indera kinestetik itu? Indera kinestetik adalah sistem pengolahan informasi dan persepsi tubuh atas pergerakan otot/ badan, dan citra tubuh. Bagaimana kita bisa merasakan bahwa badan kita sedang miring atau tegak lurus, bagaimana persepsi kita atas pergerakan otot-otot kita, bagaimana kita merasakan ringan/ beratnya tubuh kita – adalah beberapa contoh dari penginderaan kinestetik.

Saat berlatih musik, selain indera pendengaran dan pengelihatan, indera kinestetik kita juga aktif bekerja. Indera kinestetik kita merasakan pergerakan jari-jari tangan kita saat memetik gitar, kemiringan kepala saat memainkan biola, posisi condong tubuh saat bernyanyi, seberapa regang kedua kaki kita saat bermain drums, atau bagaimana posisi bibir dan lidah saat meniup saksofon.

“Tampaknya posisi jari-jari tangan kanan saya ketika memetik senar tidak seperti ini deh..”, “kursi drums ini kurang ke belakang sedikit, karena kaki saya tidak perlu seregang ini”, kedua kutipan itu merupakan contoh bahwa kita juga memiliki memori atas penginderaan kinestetik. Secara sekilas kita bisa melihat bahwa dalam keseharian ingatan kinestetik itu terjadi secara otomatis, dengan kata lain tanpa berusaha ekstra untuk memberi perhatian, kita akan mempunyai ingatan kinestetik tersebut. Namun sebenarnya jika kita menyadari, memberi perhatian pada penginderaan tersebut sebagai sebuah pengalaman yang bermakna, ingatan kinestetik itu akan lebih mudah kita akses.

Dalam beberapa pengamatan yang sering saya lakukan terhadap permainan perkusi, banyak kelompok tari yang dapat mengeksekusi dan menampilkan musik perkusi dengan ritmik yang sangat baik dan padu, walaupun mereka tidak berlatih musik secara khusus. Sedangkan banyak kelompok perkusi yang terasa masih kurang penampilan ritmiknya walau secara khusus mereka berlatih musik. Secara spekulatif dan non statistik [dan sangat bisa dibantah] saya mengatribusikan perbedaan tersebut lebih pada keterlibatan kinestetik dari kedua kelompok penampil. Gerak motorik yang sesuai dengan rhythm lebih dipentingkan pada kelompok tari yang melatih tarian dan musik perkusi dibandingkan kelompok musik perkusi. Dalam bentuk lain adalah pengalaman saya melatih sekelompok anak pra sekolah menampilkan komposisi perkusi. Performa mereka untuk komposisi perkusi tersebut meningkat drastis ketika kami [para pengajar] me’nambah’kan sedikit gerak [mirip] tarian untuk membantu mereka mengingat kapan bunyi tertentu terjadi.

Hanya elemen ritmik kah yang akan terbantu dengan keterlibatan kinestetik? Pengalaman saya bermain dan mengajar gitar serta paduan suara memperlihatkan bahwa keterlibatan kinestetik juga besar pengaruhnya pada aktualisasi elemen tonal/ nada, timbre/ warna suara, juga dinamika.

Berikut ini adalah beberapa hal praktis yang bisa Anda cobakan dalam berlatih musik dalam hubungannya dengan penginderaan kinestetik:

1. eksekusi bunyi atau nada dengan perlahan-lahan [tempo yang lambat]. Hal ini membiarkan Anda untuk dapat lebih:

  • memperhatikan kualitas bunyi yang dihasilkan
  • memperhatikan posisi, pergerakan, kekuatan otot-otot yang bekerja
  • memperhatikan organ tubuh lain dan tubuh secara keseluruhan
  • menikmati ‘feel’/ rasa dari bunyi/ nada yang dihasilkan

2. lakukan hal ini berulang-ulang hingga pada suatu titik mendapatkan cara dan asosiasi yang kuat dan nyaman antar hal-hal di atas. Pengulangan yang efektif juga membantu kita untuk mendapatkan kualitas terbaik dari hal-hal di atas [pergerakan, kekuatan motorik, sensasi tubuh, tone bunyi, juga ‘feel’ atas bunyi yang dihasilkan].

3. tanpa menggunakan instrumen, berlatihlah membayangkan: visualisasi dan gerak tanpa menggunakan instrumen tersebut. Latihan ini bermanfaat untuk menguatkan asosiasi antar hal-hal pada poin 1, dan melatih inner hearing/ imaji musikal. Latihan ini juga bisa berguna untuk meningkatkan kepercayaan diri serta perasaan nyaman dan nikmat atas musik yang dilatih -dengan tidak adanya bunyi aktual yang terjadi, kita akan lebih ‘lepas’ dalam melatihnya karena relatif tidak ada yang ‘salah’. Latihan tanpa instrumen ini juga memungkinkan ekspresi untuk lebih dapat teraktualkan, dimana biasanya hal tersebut lebih tertahan saat melakukan latihan langsung dengan instrumen.

4. nikmatilah bunyi/ nada/ musik yang Anda mainkan. Cobalah untuk menggerakkan tubuh untuk menikmatinya, tidak usah sampai menari, gerakan-gerakan kecil saja (bergoyang mengayun ke samping atau ke depan, atau bahkan sesederhana mengangkat alis).

Secara umum, latihan tanpa instrumen ini akan membantu mengutuhkan hasil latihan-latihan sebelumnya.

NB: para pemusik hebat dan kawakan juga melakukan ppoin-poin di atas walau mungkin mereka sudah melakukannya dengan lebih efisien, terbiasa, dan tidak disadari/ otomatis.

 

Beberapa implikasi bagi pendidik musik sehubungan dengan penginderaan kinestetik dalam latihan musik:

  1. fasilitasi siswa dengan informasi dan stimulasi indera kinestetik
  2. fasilitasi siswa dalam kegiatan visualisasi dan latihan tanpa instrumen, baik di ‘kelas’ maupun mandiri.
  3. peka dengan keragaman individual siswa, berhubungan dengan kondisi kinestetik, juga imajinasinya.
  4. memberikan ruang dan waktu yang cukup bagi siswa untuk melakukan integrasi latihan musik dengan indera kinestetiknya.
  5. tumbuhkan dan pupuklah rasa percaya diri siswa.

 

Demikian, semoga bermanfaat. Bermusiklah dengan sekujur badanmu! 🙂

 

– Petrus Briyanto Adi –

TIPS: membuat lagu untuk anak – part. 1

Berikut ini beberapa tips dalam membuat lagu untuk anak-anak:

  • ingat-ingat lagi atau cari tahu lah lagu-lagu anak indah yang sudah ada; juga lagu-lagu rakyat/ daerah (bisa dari daerah mana saja). catatan: format lagu anak dan format lagu daerah mempunyai banyak sekali kesamaan, di antaranya: bagian-bagiannya sederhana, banyak pengulangan, memungkinkan dinyanyikan bersama-sama.
  • Dari lagu-lagu tersebut, saya yakin Anda sudah bisa membayangkan ‘bentuk’ lagu yang ‘pas’ untuk anak-anak: panjang lagunya, banyak melodi dan liriknya, etc.
  • Anda bisa coba ganti liriknya sesuai dengan kebutuhan/ situasi bersama anak. Menurut hemat saya ini tidak ‘haram’ kok 🙂
  • Setelah itu saya yakin Anda sudah lebih ‘advanced‘ lagi dalam ‘membuat’ lagu buat anak. Cobalah buat satu saja yang menurut Anda orisinil/ otentik.
  • ‘Bagi’lah lagu tersebut kepada orangtua-orangtua dan anak-anak lain. Bisa secara lisan/ langsung, atau dicatat/ direkam. Mintalah bantuan jika Anda kesulitan teknis.
  • Di jaman ‘informasi’ sekarang ini banyak sekali kanal untuk membaginya. Silakan gunakan kanal-kanal tersebut: lewat handphone, fasilitas social media dunia maya, etc.
  • Sering-seringlah bermain musik bersama anak Anda. Jika Anda ‘keukeuh’ menganggap diri Anda tidak bisa, ajaklah teman-teman Anda yang gemar bermain musik untuk bermusik di rumah Anda.
  • Sampaikanlah juga nilai-nilai luhur yang ingin Anda wariskan pada anak-anak dalam lagu-lagu yang Anda buat. Semakin sederhana tuturannya, semakin baik.
  • Menurut hemat saya, yang terpenting adalah ketulusan Anda, karena ternyata hal tersebut yang paling kuat ‘diinderai’ anak-anak.
  • Bersukarialah dan nikmati proses ini :))

Akan bertambah indah jika kita melestarikan dan mengembangkan lagu-lagu untuk anak, baik menyanyikan yang sudah ada maupun ‘menciptakan’ yang baru. Dan SUNGGUH, jangan tergantung pada rekaman audio/ komersialisasi lagu-lagu anak. IMO lagu untuk anak adalah pengalaman yang AKTUAL. Mari 🙂

– P. B. Adi –

Lord Guide Me – part 1


Lord Guide Me | [music & lyrics: P. B. Adi] | © 2011, tala lestari

lord… guide me through this desert
it’s hot outside, i’m cold inside
for there will be storm
for there will be thunder
oh lord.. guide me… through this desert

lord guide through the night
it’s cold outside, i’m cold inside
for there will be rain
for there will be thunder
oh lord.. guide me… through the night

lord guide me through this tunnel
it’s dark in here, i’m cold inside
for there will be flood
for there’ll be no air to breathe
oh lord… guide me…

KGG – belajar gitar bersama; di taman publik

Dua minggu lalu, Iga Massardi mengontak saya via message di facebook. Dia memberi tahu saya tentang sebuah program yang ingin ia jalankan. Sebuah kegiatan belajar gitar untuk para pemula/ yang belum bisa main gitar sama sekali atau belajar gitar dari nol. Kegiatan ini membebaskan para pesertanya dari biaya resmi belajar atau gratis. Serta merta saya senang sekali dan bersemangat untuk membantunya. Begitu saya menceritakan hal ini kepada istri saya, Bonita juga dengan amat bersemangat mendukung saya untuk mendukungnya.

Hebat dan sederhana… KEREN!“, pikir saya. Ini adalah sebuah bentuk konkrit dari berbagi hal baik dengan cara yang sangat menyenangkan, sebuah kegiatan yang paling saya idamkan. Dan sukacita sekali hati ini karena Iga di tahap perkembangannya sekarang ini lah yang menginisiasi dan menjalankan program ini. Menurut saya, keberanian dan niat baik ini perlu untuk dicontoh dan didukung.

Setelah melalui dua kali pertemuan dengan para fasilitator/ instrukturnya, akhirnya KGG (singkatan dari Kelas Gitar Gratis) ini dilakukan untuk pertama kalinya pada hari Minggu 7 Agustus 2011 yang lalu. Mengejutkan!! Peserta yang mendaftar tampaknya hadir semua. Bayangkan ada 40 orang peminat belajar gitar yang akan belajar bersama di sore hari itu. Bukan jumlah yang sedikit, lebih tepatnya BANYAK!!! 🙂 ke-40 orang ini kami bagi menjadi dua ‘kloter’ sesi belajar. Hal ini kami lakukan untuk menjaga efektivitas dan kenyamanan belajar-mengajar. 20 orang ditangani oleh kami para fasilitator/ instruktur (saya, Iga Massardi, Bondan Rastika, Andra Kurniawan, Ruchul Ma’ani) selama +/- 45menit dilanjutkan ‘kloter’ keduanya.

Materi belajarnya juga bukan hal yang sulit. Twinkle-twinkle Little Star kami pilih sebagai lagu awal yang dipelajari peserta dengan memainkan melodinya di satu senar saja. Saat kegiatan berlangsung, saya merasa senang dan tentram, para peserta mau mengikuti instruksi dan kegiatan dengan baik dan tampak penuh hati. Tidak terlihat ada yang malas, sebaliknya mereka tampak begitu bersemangat. Ya, penuh hati dan semangat mengikuti instruksi dan kegiatan belajar adalah modal belajar yang sangat baik. Semoga hasilnya pun demikian nanti ya 🙂 *jangan lupa pada latihan di rumah ya kalian*

Apresiasi juga saya berikan kepada Taman Surapati yang sudah memberi wadah bagi ‘suasana belajar’ yang begitu hangat, beradab, dan menyenangkan. Kami merasa aman dan nyaman belajar di sana. Bayangkan di sebuah taman di tengah-tengah kota Jakarta ini ada kegiatan yang dilakukan ‘ratusan’ manusia yang sebagian besar adalah bermain musik: sekelompok anak belajar biola, puluhan orang bermain orkes kamar, sekelompok pemuda dan Bapak2 bermain alat musik tiup sambil mengaransemen lagu “Padamu Negeri”, dan banyak anak-anak berlari-larian sambil bermain bola sambil tertawa-tawa (termasuk Pram anak saya)… Masyarakat kita ini beradab lho 🙂 dan saya percaya bahwa musik adalah salah satu agen yang bisa membuat masyarakat menjadi lebih beradab. *mariii!!!*

Begitulah kira-kira gambaran secuil tentang kegiatan KGG di hari Minggu lalu. Minggu depan, kegiatan ini akan berlangsung kembali. Kami para fasilitator/ instruktur akan mempersiapkan lagi materi ajar kelanjutan dan yang baru untuk para peserta. Semoga dapat kami siapkan dengan baik. Bagi para peserta yang ikut minggu lalu, jangan lupa untuk latihan terus di rumah ya. Jangan lupa juga untuk daftar lagi ke mas Iga agar bisa tercatat dan berkelanjutan kegiatannya. Tidak sabar menunggu hari Minggu depan ini berkegiatan musik bersama dalam suasana yang nyaman.

Tulisan kali ini akan saya tutup dengan kutipan dari seorang guru besar Psikologi Musik dari Keele University, UK. Sebuah pernyataan yang saya amat akuri, karena menurut hemat saya, ini sungguh kita butuhkan, kalau kita mau lebih menghargai musik untuk kualitas hidup yang lebih baik:

“… performance potential could be unlocked in millions of people if we could recreate social institutions which focused on musical enjoyment, and personal and communal fulfilment, rather than on the need to be best, or to meet the taxing performance requirements of a professional elite”
(Sloboda, 2005)

Mari teman-teman dan saudara-saudara… 🙂 Salam damai 🙂

* P. B. Adi *