5 ROTI DAN 2 IKAN

Waktu kecil, saya memberi nilai meriah, sukacita, dan seru pada mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang hanya dengan ‘bermodalkan’ 5 roti dan 2 ikan (sisanya tercatat ada 12 bakul). Mengingat lagi cerita itu sekarang, pada masa PilPres RI 2014, saya jadi bertanya, apakah itu real count? ataukah quick count? siapa yang kredibel menghitung jumlah-jumlah itu pada saat itu? dan sebagainya.

Saya sendiri tidak yakin dengan hitung-hitungan tersebut. Pada kebenaran teks mukjizat itu pun, saya tidak sepenuhnya percaya. Apakah saya seorang yang murtad dari ajaran Kristus? saya rasa bukan wilayah saya untuk menghakimi diri saya sendiri. Tapi salah satu ‘tafsir’ yang selalu menyegarkan untuk saya pegang dan hidupi adalah semangat sederhana, saling membantu, dan berbagi untuk kebaikan.

Begini.. ada yang melihat (saya senang sekali melihatnya demikian) mukjizat 5 roti dan 2 ikan itu sebagai kejadian sederhana sekaligus istimewa. Ada 5000 orang mengikuti Yesus, mau mendengarkan khotbahnya. Yesus merasa prihatin pada mereka.. “kasihan mereka udah jauh-jauh berkumpul, mau mendengarkan saya, masak gak ‘dijamu’ apa-apa?” begitu lah mungkin ‘kasar’nya menurut tafsir saya. Sedangkan bekal yang dibawa oleh murid-murid Yesus dan kerabat dekatnya cuma 5 roti dan 2 ikan. Maka diberkatilah ketujuh item tersebut oleh Yesus lalu dengan semangat berbagi dari apa yang dipunya, dibagikanlah 5 roti dan 2 ikan tersebut. Ternyata semangat kesederhanaan, berbagi, dan kasih itu menginspirasi semua hadirin. Hal itu menjadi teladan bagi mereka: masing-masing dari mereka yang membawa bekal mengurunkan bekal mereka untuk bisa dibagi-bagi bersama. Menular, satu ke dua, dua ke lima, lima ke dua puluh, dua puluh ke seratus, seluruh hadirin berpartisipasi: mengurunkan bekalnya, mendistribusikannya kepada yang membutuhkan, mengatur pembagian, dan sebagainya, bahkan akhirnya ada sisa yang sangat berkelimpahan yaitu 12 bakul penuh.

‘Mukjizat’ ini bukan sulap ataupun sihir. Ini adalah keajaiban yang selalu ada dalam kehidupan kita sehari-hari, yang (menurut saya sih) saklar penghidupnya adalah sederhana dan niat baik. Dengan kesederhanaan, kita dapat menimbang dengan pas apa yang kita butuhkan, berapa banyak, bagaimana kita mencukupinya. Kesederhanaan dan niat baik juga memungkinkan kita melihat bagaimana dengan yang lain? Bagaimana kebutuhan yang lain? berapa banyak? apa yang bisa dibantu agar orang lain juga dapat tercukupi kebutuhannya? Kesederhanaan dan niat baik juga mendorong kita untuk berkorban, aktif membantu yang lain yang membutuhkan walaupun kita belum kenyang-kenyang amat. Komunis? Ah, kau saja lah yang beri nama itu. Hampir tiap minggu saya terima komuni suci, bisa jadi saya adalah komunis suci. Anyway…

Saya terharu dan bangga, di tengah hiruk-pikuk dan keruhnya pilpres kita sekarang dengan fitnah-fitnah, kecurangan, gegontokan, juga berita-berita miring atau bengkok, kita masih bisa berkumpul bersama. Beberapa orang membuat inisiatif dan bekerja mengawal suara pilpres dan kinerja KPU. Sampai dijadikan rujukan untuk KPU dalam menjalankan tugasnya. Jauh dari hiruk-pikuk, terbenam di depan monitor desktop atau gadget masing2, tabel excel, kertas tabulasi, sampai-sampai pandangan mata pudar jika melihat jauh, hingga pinggang pegal-pegal, jalan-jalan bukannya ke tempat rekreasi tapi kok malah ke kelurahan2, kecamatan2: dengan sederhana dan niat baik mengawal KPU menjalankan tugasnya dan mengamankan suara kita (apapun coblosannya) agar jujur dan adil diperhitungkan. Tindakan-tindakan sederhana itu menular, menginspirasi banyak orang juga untuk melakukannya bersama-sama, untuk hidup kita yang lebih baik nantinya, dimulai dari kejujuran dan keadilan. Sedih sebenarnya, pekerjaan ‘membosankan’ ini jadi perlu dilakukan karena memang ternyata ada (kalau tidak bisa dibilang banyak) kecurangan-kecurangan yang terjadi yang tampak tidak bisa dikontrol oleh pemerintah.

Menengok sebentar ke beberapa minggu lalu, kita juga bisa melihat partisipasi sederhana dan (oleh karenanya) bermutu dari kita sendiri untuk pilpres kita. *tidak perlu saya sebutkan siapa calonnya, atau siapa yang tidak bermutu lah ya*. Sukacita, nyaman, adem, guyub, mandiri, bertanggung jawab, dan bermartabat. Pun demikian, masih ada saja yang bertanya: “loe bikin lagu dan video itu dibayar berapa sama timses?”. Jawabnya aja sampai bingung karena takjub sama pertanyaannya “????”.

Fitnah, kecurangan memang bisa menular. Tapi saya percaya (sudah banyak buktinya, sederhana) niat baik, kesederhanaan, kejujuran, dan sukacita lebih alamiah dan oleh karenanya pasti lebih kuat serta lestari.

Terimakasih yang tulus untuk teman-teman yang sudah rela mengorbankan waktunya untuk memulai dan menjalankan inisiatif-inisiatifnya untuk Indonesia yang sederhana, bermartabat, cerdas, jujur, dan sehat (lahir batin) khususnya di masa-masa penting ini. Salut, haru, bangga, dan bahagia dari kami sekeluarga dan teman-teman yang mungkin tidak mengenal kalian satu per satu. Kalian juga lah alasan kami bangga pada bangsa KITA, bangsa Indonesia. Terimakasih atas teladan yang sudah kau tunjukkan.

Salam2Jari (teuteup) 😊✌️

Petrus Briyanto Adi sekeluarga.

Advertisements

2 thoughts on “5 ROTI DAN 2 IKAN

  1. Bener banget ini. Yg menggerakkan ‘mesin relawan’ selama ini untuk mengawal Jokowi-JK hanya satu: iman. Kami semua mengimani bahwa (setidaknya) ‘keindahan’ harus dibela. Harus menang, malah! Tapi dengan cara yang beradab & bermartabat!

  2. 5r+2i bukan sekedar mujisat tp compassion… relawan jokowi punya itu… kasih yang rela utk berjuang dan berbagi untuk kepentingan bersama… salam kemenangan, damai, dan rangkum jemari…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s